21 Mei 2012



LANDASAN TEORITIS
Remedial Teaching
1.      Pengertian Remedial Teaching

Proses pembelajaran pada umumnya bertujuan agar siswa dapat memahami hasil belajar yang sebaik-baiknya. Apabila hasil yang dicapai tidak memuaskan, maka diperlukan suatu proses pembelajaran yang dapat membantu agar tercapai hasil belajar yang diharapkan.
Salah satu langkah perbaikan yang dapat ditempuh oleh guru dalam rangka mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh anak didik adalah dengan mengadakan remedial teaching. Untuk memahami remedial teaching maka terlebih dahulu dibahas pengertian remedial menurut para pakar pendidikan.
a.    Menurut Rahman Natawijaya, remedial adalah “bersifat menyembuhkan atau membetulkan atau membuat menjadi baik”.[1]

b.    Menurut Uzer Usman, “dalam remedial teaching yang disembuhkan, yang diperbaiki atau yang dibetulkan adalah keseluruhan proses pembelajaran, meliputi cara mengajar, metode mengajar, materi mengajar, materi pelajaran, alat belajar dan lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses pembelajaran”.[2]

c.    Menurut Abin Syamsudin Makmun, remedial teaching adalah usaha guru untuk menciptakan suatu yang memungkinkan individu atau kelompok siswa tertentu mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin, sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan melalui suatu proses interaksi yang terencana, terorganisasi, terarah, terkoordinir dan terkontrol dengan lebih objektif individu dan kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungan.[3]

d.   Ischak SW dan Warji R mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
     Remedial adalah studi kasus tersendiri untuk mengatasi siswa yang lamban, mengalami kesulitan atau kegagalan belajar yang mencakup:
a)    Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan atau kegagalan siswa dalam belajar.
b)    Langkah-langkah perkiraan, mungkin tidaknya dilakukan kegiatan untuk mengatasi kesulitan atau kegagalan belajar.
c)    Alternatif penyembuhan yang mana dipakai untuk mengatasi kesulitan atau kegagalan itu.[4]

e.    M. Entang berpendapat bahwa:
Pengajaran upaya untuk menemukan kelemahan yang dialami oleh seseorang dengan cara yang sistematis berdasarkan gejala yang nampak seperti nilai prestasi hasil belajar yang rendah, tidak bergairah dalam mengikuti pelajaran, kurang motivasi dalam mengerjakan tugas dan sebagainya. Studi tersebut hendaknya diarahkan kepada penemuan letak faktor penyebabnya, baik yang terletak pada diri siswa itu sendiri maupun yang berasal dari luar diri siswa yang bersangkutan. Bila hal tersebut telah ditemukan, haruslah direncanakan alternatif cara memberikan bantuan yang tepat atau merupakan segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis sifat kesulitan belajar, faktor-faktor yang menyebabkannya serta cara menetapkan kemungkinan-kemungkinan untuk mengatasinya, baik secara pencagahan atau preventif, cara penyembuhan atau kuratif maupun secara pengembangan atau developmental berdasarkan informasi yang objektif dan selengkap mungkin.[5]

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa remedial teaching merupakan suatu usaha guru yang dilakukan dalam rangka membantu meningkatkan kualitas siswa dalam proses pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan berdasarkan perencanaan dan kondisi siswa. Proses bantuan lebih ditekankan pada usaha perbaikan cara belajar mengajar, penyesuaian materi pelajaran dan penyembuhan atas kesulitan-kesulitan yang siswa hadapi.
2.      Ciri-ciri Remedial Teaching

Pengajaran remedial teaching sifatnya lebih khusus dari pengajaran lainnya, karena pelaksanaan pengajaran ini disesuaikan dengan jenis dan sifat kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Dengan remedial teaching, siswa yang mengalami kesulitan belajardapat mencapai hasil yangan  diharapkan sesuai dengan kemampuannya. Untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan ciri-ciri remedial teaching
Menurut Moh. User Usman dan Lilis Setiawati yaitu:
a.       Dilakukan setelah diketahui kesulitan belajar dan kemudian diberikan pelayanan khusus sesuai dengan jenis, sifat, dan latar belakang.
b.      Dilakukan sesuai dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
c.       Metode yang digunakan bersifat diferencial disesuaikan dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar.
d.      Dilaksanakan melalui kerja sama berbagai pihak, guru, pembimbing, konselor, dan sebagainya.
e.       Pendekatan dan teknik lebih diferencial artinya disesuaikan dengan keadaan siswa.
f.       Alat evaluasi yang digunakan disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa.[6]




Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengajaran remedial teaching dengan dengan pengajaran biasa. Hal ini terlihat dari ciri-ciri pelaksanaanya. Pertama adalah remedial teaching dilakukan setelah diketahui kesulitan belajar siswa, sehingga jenis layanan atau bantuan yang diberikan sesuai dengan jenis kesulitan, sifat, dan latar belakang siswa tersebut. Yang kedua dari pelaksanaan remedial teaching adalah indikator pembelajaran disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
Demikian juga dengan pemilihan metode pada pengajaran remedial teaching sebagai salah satu cirinya adalah bahwa metode yang digunakan disesuaikan dengan sifat, jenis dan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa.
Hal ini juga menjadi ciri program pengajaran, ini yang membedakan nya dengan program pengajaran lainnya bahwa pengajaran remedial teaching dilaksanakan melalui kerja sama berbagai pihak, guru pembimbing, konselor dan sebagainya. Demikian juga pendekatan dan teknik pengajaran serta alat yang digunakan disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa yang dipilih oleh guru disesuaikan dengan keadan siswa.      




3.      Tujuan Remedial Teaching

Dalam arti luas atau ideal, remedial teaching bertujuan memberikan bantuan baik berupa perlakuan pengajaran maupun berupa bimbingan dalam upaya mengatasi kasus-kasus yang dihadapi siswa. Bantuan yang berupa perlakuan dalam pengajaran dalam proses belajar mengajar, misalnya berupa; modul, metode mengajar dan sebagainya. Sedangkan bantuan yang berupa bimbingan lebih banyak menekankan kepada kesejahteraan mental siswa. Kemudian dalam arti sempit atau operasional, remedial teaching ini bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada siswa yang lambat, sulit, gagal belajar, agar mereka secara tuntas dapat menguasai bahan pelajaran yang diberikan.[7]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari remedial teaching ini adalah untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, dengan bantuan tersebut mereka dapat mencapai tingkat penguasaan dari materi yang ditetapkan.
Secara umum, tujuan remedial teaching  tidaklah berbeda dengan tujuan pembelajaran pada umumnya yaitu agar setiap siswa dapat mencapai prestasi belajar yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.Menurut Rahman Natawijaya,tujuan remedial teaching adalah:


a.       Agar siswa memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajar yang meliputi segi kekuatannya, segi kelemahannya, jenis dan sifat kesulitannya.
b.      Agar siswa dapat merubah dan memperbaiki cara-cara belajar yang lebih baik sesuai dengan kesulitan yang dimilikinya.
c.       Agar siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
d.      Agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan belajar yang menjadi latar belakang kesulitannya.
e.       Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang baru dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang lebih baik.
f.       Agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan.[8]

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami terdapat enam bentuk tujuan dari remedial teaching. Tujuan yang pertama dari pelaksanaan remedial teaching adalah agar siswa memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajarnya. Pemahaman ini meliputi segi kekuatan yang dimiliki siswa tersebut, seperti dalam segi materi apa yang lebih menarik bagi dirinya, serta kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dalam belajar, sehingga dikemudian hari siswa tersebut dapat lebih mudah memahami pelajaran dan lebih    berprestasi.
Dari  pemahaman yang telah diperoleh siswa atas kelebihan  dan kekurangannya,yang ditunjuk guru melalui remedial teaching yang dilaksanakan,diharapkan siswa dapat merubah atau memperbaiki cara-cara belajar yang lebih baik sesuai dengan kesulitan yang dihadapinya. Terjadinya perubahan cara belajar inilah yang menjadi tujuan remedial teaching.
Tujuan remedial teaching selanjutnya adalah agar siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajarnya. Hal ini dapat diwujudkan setelah guru mengenali bentuk kesulitan siswa maupun kelemahan siswa. Berdasarkan data-data  tersebut kemudian guru dapat memilihkan materi dan fasilitas belajar yang tetap untuk mengatasi kesulitan belajar pada siswanya.
Tujuan selanjutnya adalah agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan belajar yang menjadi latar belakang kesulitannya. Setelah siswa mengenali sifat ataupun bentuk kesulitan yang dialaminya,maka informasi ini merupakan langkah awal bagi siswa untuk mengatasi hambatan belajar yang dialaminya.
Agar siswa dapat mengembangkan sikap-sikap dan kebiasaan yang baru dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang lebih baik, merupakan bentuk tujuan yang hendak dicapai guru dengan program remedial teaching. Hal ini bisa direalisasikan setelah siswa dapat memahami sisi kekurangan dari aktifitas belajar yang selama ini dijalaninya. Yang juga menjadi tujuan dari pengajaran remedial adalah agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan. Dengan penyadaran yang telah dilakukan guru sebagai salah satu tahap remedial teaching maka tujuan ini dapat dicapai.
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwasannya tujuan remedial teaching pada dasarnya tidaklah jauh berbeda dengan tujuan pengajaran biasa, yaitu sama-sama mengoptimalkan keberhasilan siswa dalam pencapaian target dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Perbedaan tujuan remedial teaching dengan pengajaran biasa dapat kita lihat dari segi sasaran pelaksanaannya, yaitu remedial teaching ditujuakan bagi siswa yang mengalamikesulitan dalam belajarnya sehingga tidak mampu mencapai standar minimal dari keberhasilan proses pembelajaran, siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajarnya melalui perbaikan proses pembelajaran yaitu pada remedial teaching.    
4.      Prosedur Remedial Teaching

Remedial teaching merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pelayanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan pembelajaran, Secara umum prosedur remedial teaching menurut Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, yaitu: (1) Penelaahan kasus, (2) Pilihan alternatif tindakan, (3) Layanan penyuluhan, (4) Pelaksanaan remedial, (5) Post test pengukuran kembali hasil belajar, (6) Re-evaluasi atau Re-diagnostik.[9]
Masing-masing prosedur tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut:
(1) Penelaahan kasus
Penelaahan kasus yaitu suatu usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam melihat permasalahan yang dialami oleh siswa. Penelaahan kasus ini merupakan tahap fundamental dalam kegiatan remedial teaching karena merupakn landasan pangkal untuk menentukan langkah selanjutnya, dengan sasaran pokok:
a.    Diperolehnya gambaran yang lebih defenitif mengenai karakteristik dan permasalahan kasus
b.    Diperolehnya gambaran yang lebih defenitif mengenai fasilitas alternatif tindakan remedial yang direkomendasikan.[10]  
Berdasarkan uraian di atas, kegiatan awal pelaksanaan remedial teaching difokuskan kepada langkah rasional atas hasil diagnostik yang telah dialakukan. Jadi, kegiatan ini merupakan pengecekan atau penelitian ulang terhadap:
1.     Mengecek kebenaran dan pelengkapan informasi data
2.     Relevansi antara tafsiran dan kesimpulan data
3.     Mengecek ulang informasi yang telah dikumpulkan
4.     Fleksibilitas dari setiap alternative tindakan remedial yang direkomendasikan.[11]
Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam penelaahan kasus yaitu:
1)      Mengidentifikasi bentuk-bentuk kasus yaitu siswa mangalami kesulitan belajar seperti siswa malas dalam belajar, kurang motivasi, hasil belajar rendah.
Merujuk kepada pendapat Hallen yang mengutip penadapat Moh Surya sebagai berikut: indikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah :
1.      Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok siswa kelas.
2.      Hasil usaha yang dicapai dalam belajar tidak seimbang dengan yang dilakukan walaupun berusaha dengan giat tetapi juga mencapai nilai-nilai yang rendah.
3.      Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, mentang, berpura-pura, dusta dan sebaginya.
4.      Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti bolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah(PR), menganggu di dalam dan di luar kelas.
5.      Lambat melakukan tugas-tugas kegiatan belajar dan lambat menyelasaikan tugas dengan waktu yang tersedia.
6.      Menunjukkan gejala emosional seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu misalnya mendapat nilai rendah, tidak menunjukkan sikap penyesalan.[12]  

2)  Melihat faktor-faktor penyebab kesulitan belajar seperti foktor yang berasal dari siswa itu sendiri, dari segi proses pembelajaran dan segi lingkungan.
Menurut pendapat Mustaqim dan Abdul Wahib, faktor yang dapat menyebabkan siswa kesulitan dalam belajar atau bermasalah dalam belajar, yaitu: “faktor internal atau faktor yang berasal dari kondisi siswa itu sendiri, hal ini bisa berasal dari kelainan fisik maupun psikis, dan faktor eksternal yaitu faktor yang hadir di luar diri siswa, sebab eksternal berpangkal dari keluarga, pergaulan, salah asuh ataupun pengalaman hidup yang tidak menyenangkan.[13]
3) Melihat letak kelemahan kesulitan belajarnya seperti apakah pada sebahagian besar atau pada keseluruhan bidang studi, pada bidang studi tertentu saja, dan pada unit tertentu dari suatu bidang studi saja.
4) Menentukan tingkat mana siswa  mengalami kesulitan belajar dilihat dari taksonomi tujuan pendidikan yaitu kognitif (hafalan, permasalahan, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi), afektif (penghargaan, pendalaman dan penyadaran), psikomotor (pola gerak gerik keterampilan prilaku umum, prilaku khusus dan komunikatif).[14]
Berdasarkan uraian di atas, maka untuk mencapai sasaran pokok dari penelaahan kasus, guru selayaknya melakukan pengecekan ulang dari informasi yang telah dikumpulkan. Hal yang perlu diteliti ulang oleh guru adalah kebenaran dan kelengkapan informasi data. Data-data yang diperoleh untuk menggambarkan karakteristik kasus dan permasalahan siswa dicek kembali sehingga kebenarannya dapat dipercaya.
Hal yang perlu diteliti ulang adalah hubungan antara tafsiran dan kesimpulan yang diperoleh guru dari penelaahan kasus yang dilakukan sehingga kesimpulan yang utuh mencakup seluruh masalah siswa.
Kemungkinan-kemungkinan penyelesaian masalah belajar siswa harus didukung dengan data yang lengkap bukan rekayasa guru, maka sebelum penetapan kesimpulan tentang kasus yang ditelaah guru hendaknya mengecek ulang informasi yang telah dikumpulkannya. Selanjutnya, hal yang perlu dicek ulang olek guru sehingga penelaahan kasus dapat mencapai tujuan yang diinginkan adalah guru hendaknya meneliti fleksibilitas dari setiap alternatif tindakan remedial yang direkomendasikannya.
(2) Pilihan Alternatif Tindakan
Pilihan alternatif tindakan adalah suatu keputusan yang diambil oleh seorang guru pada langkah pemilihan alternatif tindakan yang mana sasaran pokoknya adalah membuat keputusan pilihan alternatif mana yang dapat ditempuh berdasarkan pertimbangan rasional yang seksama.
Selanjutnya, guru perlu memperhatikan pelaksanaan remedial teaching, menentukan alternatif  tindakan. Langkah ini merupakan lanjutan dari langkah pertama. Jadi dari hasil penelaahan kasus yang dilakukan pada langkah pertama itu akan diperoleh kesimpulan mengenai dua hal pokok, yaitu :
1)      Apakah kasus ini selain memiliki kesulitan dalam menemukan dan mengembangkan pola strategi/ metode/ teknik belajar yang sesuai dan juga diharapkan kepada hambatan-hambatan lain.
2)      Kasus hanya memiliki kesulitan dalam menemukan dan mengembangkan pola strategi / metode / teknik belajar yang sesuai.[15]
3)      Kasus yang bersangkutan telah memiliki kecendrungan kearah kemampuan menemukan dan mengembangkan pola strategi/ metode/ teknik belajar yang sesuai.[16]
Adapun langkah-langkah yang ditempuh guru dalam pemilihan alternatif  tindakan adalah :
1)      Mengidentifikasi bentuk-bentuk alternatif tindakan yaitu mengelompokkan siswa apakah siswa tersebut termasuk kasus ringan, sedang atau berat.
2)      Menentukan karakteristik alternatif tindakan.Menentukan prinsip-prinsip dari alternatif  tindakan seperti efektifitas, efisiensi, dan keserasian.[17]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alternatif tindakan itu adalah suatu keputusan yang diambil oleh seorang guru pada langkah pemilihan alternatif tindakan. Sasaran pokonya adalah membuat keputusan pilihan alternatif tindakan mana yang dapat ditempuh berdasarkan pertimbangan rasional yang seksama.

Untuk menentukan karakteristik kasus yang akan diselesaikan tersebut maka kasus dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu berat, sedang, dan ringan. Kasus yang ringan yaitu bila siswa belum menemukan cara belajar yang baik, kasus yang sedang yaitu bila siswa telah mampu menemukan pola belajar tetapi belum berhasil karena ada hambatan psikologis, sedangkan kasus yang berat yaitu siswa yang belum memiliki cara belajar yang baik dan memiliki hambatan emosional.[18]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menelaah kasus yang ringan, tindakan yang diberikan adalah memberikan remedial teaching, kalau kasusnya sedang dan berat maka sebelum diberikan remedial teaching tindakan yang diambil adalah memberikan layanan konseling terlebih dahulu untuk mengatasi hambatan-hambatan yang mempengaruhi cara belajarnya.     
 (3) Layanan Penyuluhan
Layanan penyuluhan adalah suatu layanan yang diberikan kepada siswa agar terciptanya kesehatan mental siswa. Langkah ini pada dasarnya bersifat pilihan bersyarat ditinjau dari kerangka keseluruhan prosedur pengajaran remedial. Oleh karena itu, sasaran pokok yang hendak dituju oleh layanan ini adalah terciptanya kesehatan mental siswa, dalam artian siswa terlepas dari hambatan dan ketegangan bathinnya dan kemudian siap sedia untuk melakukan kegiatan belajar secara wajar dan realitas.[19]
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam layanan penyuluhan ini adalah: (1) Memanggil siswa yang bersangkutan, (2) Lalu minta keterangan pada guru bidang studi, (3) Dan minta keterangan kepada wali kelas, (4) Dan minta keterangan kepada orang tua siswa,(5) Kemudian menyerahkan kepada guru BK. Jadi layanan penyuluhan ini mengusahakan agar siswa yang bermasalah tersebut terlepas dari hambatan mental emosional (ketegangan batin), sehingga siswa siap menghadapi kegiatan pembelajaran.
(4) Pelaksanaan Remedial
Pelaksanaan remedial adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memperbaiki cara belajar agar tercapainya peningkatan prestasi atau kemampuan penyesuaian diri sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan.
Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat menggunakan pendekatan pengulangan, pengayaan, dan percepatan.
1)     Pengulangan
Pengulangan dapat dilakukan dengan berbagai tingkatan sesuai dengan diagnostiknya, yaitu :
a)        Pada setiap akhir pertemuan.
b)        Pada setiap akhir unit pelajaran
c)        Pada setiap akhir unit program studi
Waktu dan cara pelaksanaannya :
a)      Diadakan pertemuan kelas biasa berikutnya, bila sebagian/seluruh kelas mengalami kesulitan sama, dengan bahan pengajaran sama, latihan/penugasan/soal sejenis dan diadakan pengukuran kembali untuk mendeteksi hasil peningkatan ke arah kriteria keberhasilan.
b)      Diadakan di luar jam pertemuan biasa, bila yang mengalami kesulitan hanya sejumlah siswa tertentu (waktu sore, waktu istirahat dan sebagainya) atau diberikan pekerjaan rumah dan dikoreksi oleh guru sendiri.
c)      Diadakan kelas remedial (kelas khusus), bagi siswa yang mengalami kesulitan khusus dengan bimbingan khusus, atau diadakan pengulangan total kalau ternyata dibawah kriteria keberhasilan minimum.
 2)   Pengayaan
Layanan ini dikenakakan pada siswa yang kelemahannya ringan dan secara akademik mungkin termasuk berbakat, dengan cara :
a)      Pemberian tugas/pekerjaan rumah
b)      Pemberian tugas/soal dikerjakan di kelas

3)       Percepatan (akselerasi)
Layanan ini ditujukan kepada siswa yang berbakat tetapi menunjukan kesulitan psikososial (ego emosional).
a)       Bila ternyata keseluruhan bidang studi unggul dibandingkan kelompoknya dapat dinaikan ke tingkat yang lebih tinggi.
b)      Bila hanya beberapa bidang studi untuk bidang studi ini dapat diteruskan
Adapun metode yang harus dilakukan dalam program remedial teaching  adalah :
a.       Diskusi
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh kelompok siswa. Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran remedial yaitu sebagai berikut :
1)      Setiap individu dalam kelompok dapat mengenal diri dan kesulitannya
2)      Interaksi dalam kelompok menumbuhkan sikap percaya diri
3)      Mengembangkan kerja sama antar pribadi
4)      Menumbuhkan rasa tanggung jawab

b.      Tanya jawab
Metode ini digunkan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitannya. Serangkaian tanya jawab dapat membantu siswa dalam memahami dirinya, mengetahui kelebihan/kekurangannya, memperbaiki cara-cara belajar. Tanya jawab dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Metode ini dalam rangka pengajaran remedial memungkinkan terjalin hubungan guru dan siswa sehingga dapat

·         meningkatkan motivasi belajar
·         menciptakan kondisi yang menunjang pelaksanaan penyuluhan
·         menumbuhkan rasa harga diri

c.       Kerja kelompok
Metode ini dapat hampir sama dan dapat bersamaan dengan metode pemberian tugas dan metode diskusi. Yang penting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.

d.      Tutor sebaya
Tutor adalah siswa sebaya yang ditunjuk/ditugaskan membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antar teman lebih dekat dibandingkan hubungan guru dan siswa. Dengan petunjuk dari guru, tutor ini membantu temannya yang mengalami kesulitan . Pemilihan tutor didasarkan atas prestasi, punya hubungan sosial baik dan cukup disenangi teman-teman. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru. Metode tutor memiliki kebaikan sebagai berikut :
·         Adanya hubungan dekat dan akrab.
·         Bagi tutor merupakan kegiatan pengayaan.
·         Dapat meningkatkan rasa tanggung jawan dan kepercayaan diri.
e.    Pengajaran individual
Pengajaran individual adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan metode ini bersifat individual sesuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa. Materi yang diberikan dapat berupa pengulangan, materi baru atau pengayaan dari apa yang telah dimiliki siswa.
Pengajaran individual ini bersifat teaputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Untuk memiliki kemampuan membimbing dan bersikap sabar, ulet, rela, bertanggung jawab, menerima dan memahami dan sebagainya.
Menurut Muhibbin Syah, ada beberapa langkah perbaikan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh anak didik yaitu:
a.     Menganalisa hasil diagnosis, yaitu menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesullitan belajar yang dihadapi siswa.

b.     Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.


c.     Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching.    

Dalam pelaksanaan remedial teaching, sasaran pokoknya adalah tercapainya peningkatan prestasi atau kemampuan penyesuaian diri sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Adapun bentuk yang dapat diberikan dalam remedial menurut Moh. Uzer dan Lilis Setiawati adalah:
1.     Memberikan tugas-tugas tambahan dalam pelajaran tertentu.
2.     Mengubah metode mengajar dengan metode lain yang dipegang lebih sesuai dengan kemampuan siswa.
3.     Meminta teman sebayanya yang lebih pandai untuk bisa mengatasi kesulitan belajarnya.
4.     Memberikan latihan-latihan keterampilan tertentu yang mendasari kemampuan belajar siswa.
5.     Mengirim kepada para ahli seperti ahli pendidikan.
6.     Mengembangkan bakat-bakat khusus tertentu melalui berbagai kegiatan.
7.     Memindahkan ke kelompok atau ke kelas atau ke sekolah lain yang bisa membantu.[20]

   Slameto menjelaskan bentuk-bentuk kegiatan remedial tersebut sebagai berikut:
1.      Memberikan buku pelajaran yang relevan dengan tujuan suatu pengajaran yang bersangkutan.

2.      Tutoring, yaitu suatu bentuk kegiatan perbaikan yang diselenggarakan secara individual oleh siswa yang istimewa atau siswa-siswa yang lebih tinggi kelasnya kepada siswa yang belum menguasai tujuan pelajaran pada satuan pelajaran tertentu.

3.      Kerja kelompok, yaitu bentuk perbaikan yang dilakukan siswa secara berkelompok dalam mendiskusikan kesulitan-kesulitan mereka berkaitan dengan meteri pelajaran pada stuan pelajaran tertentu.

4.      Pengajaran berprogram, yaitu bentuk kegiatan yang dilakukan siswa melalui bahan pelajaran tertulis yang telah dipersiapkan untuk siswa agar bisa belajar sendiri dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dialami pada satuan pelajaran tertentu.

5.      Mengerjakan kembali, yaitu bentuk perbaikan dengan mengajar siswa secara kelompok untuk mengulangi pelajaran yang belum dikuasainya.

6.      Penggunaan lembaran kerja, yaitu bentuk kegiatan perbaikan yang dilakukan dengan cara menyediakan kegiatan-kegiatan untuk dikerjakan oleh siswa menurut petunjuk–petunjuk yang telah diberikan.

7.      Audio visual, yaitu kegiatan perbaikan yang dilakukan secara kelompok dengan memberikan penekanan pada metode dan auditif.

8.      Permainan akademik, yaitu bentuk perbaikan secara kelompok yang dilakukan dengan cara pemecahan masalah.

9.      Latihan kelompok secara efektif, yaitu kegiatan pebaikan yang dilakukan dengan cara kelompok yang penekanannya pada kegiatan-kegiatan emosional.

10.  Permainan kartu, yaitu bentuk kegiatan perbaikan secara individual yang diberikan kepada siswa untuk mengulangi terminologi, fakta, konsep atau prinsip yang terdapat pada satuan pelajaran tertentu yang sedang diperbaiki.[21]    

Dari kutipan di atas jelas bahwa kegiatan remedial ini adalah dalam rangka menyelesaikan masalah belajar yang dihadapi oleh siswa dalam berbagai bentuk baik yang dilakukan secara individual maupun kelompok dengan memanfaatkan orang lain.
Dalam pelaksanaanya, semua bentuk kegiatan perbaikan atau remedial tersebut bukan berarti harus diterapkan semuanya melainkan dapat dipilih salah satu atau beberapa bentuk yang sesuai dengan masalah yang di hadapi oleh siswa, waktu, fasilitas serta kemampuan guru yang bersangkutan. Sehingga kegiatan perbaikan yang dilaksanakan tersebut benar-benar efektif untuk mengatasi masalah belajar yang dihadapi oleh siswa.
Adapun bentuk lain yang dapat diberikan dalam remedial teaching menurut Zulkifli adalah:
1)      Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes atau pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan apabila sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pedidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan media yang lebih tepat.
2)      Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan, Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik sebagai tutor. System tutorial dilaksanakan apabila terdapat beberapa peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar.

3)      Pemberian tugas dan latihan-latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalm mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberikan latihan secara intensif untuk membantu penguasaan kompetensi yang ditetapkan.

4)      Pemanfaatan tutor sebaya. Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kemampuan belajar tinggi. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kesulitan dalam belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan mampu mengatasi kesulitannya.[22]

Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan remedial teaching, sasaran pokonya adalah siswa yang mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tersebut bisa terlepas dari kesulitan tersebut dan dapat mengahadapi pembelajaran secara efektif.    

(5) Post-test pengukuran kembali hasil belajar
   Proses pengukuran kembali hasil belajar yang dimaksud adalah pengukuran terhadap perubahan pada diri siswa yang bersangkutan, apakah dia sudah dapat mencapai apa yang telah direncanakan dalam kegiatan remedial teaching atau belum.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh guru adalah sama dengan apa yang digunakan pada waktu post-test dari PBM.
Jadi post-test pengukuran kembali hasil belajar yang dimaksud adalah pengukuran terhadap perubahan yang ada pada diri siswa. Oleh karena itu, untuk mengetahui hal tersebut dilakukan pengukuran terhadap prestasinya kembali dengan alat tes sumatif seperti yang digunakan pada proses belajar mengajar yang sesungguhnya.    

(6) Re-evaluasi atau Re-diagnostik
Re-evaluasi dan Re-diagnostik adalah suatu tindakan yang dilakukan guru untuk membandingkan hasil post-test dengan hasil post-test awal. Re-evaluasi dan Re-diagnostik ini dilakukan untuk membandingkan dengan post-test yang telah dilakukan sebelumnya dengan kriteria seperti pada proses belajar mengajar yang sesungguhnya.
Dari hasil pengukuran pada langkah sebelumnya akan diperoleh kemungkinan-kemungkinan yaitu:
1)      Kasus menunjukkan peningkatan prestasi dan kemampuan penyesuaian dirinya dengan mencapai kriteria keberhasilan minimum seperti yang diharapkan.
2)      Kasus menunjukkan peningkatan prestasi dan kemampuan penyesuaian dirinya namun masih dianggap belum memadai kriteria keberhasilan minimum yang diharapkan.
3)      Kasus belum menunjukkan perubahan yang berarti, baik dalam segi prestasinya maupun dalam kemampuan penyesuaian dirinya.[23] 
Adapun langkah-langkah re-evaluasi atau re-diagnotik ini dilakukan setelah melihat hasil dari post-test pengukuran atau membandingkan hasil dengan yang semula, apakah menunjukkan peningkatan atau belum sepenuhnya menunjukkan perubahan sesuai dengan KKM yang diharapkan.      
5.      Fungsi Remedial Teaching

Selain mempunyai tujuan tertentu, pengajaran remedial juga mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Fungsi tersebut sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun kegiatan remedial tersebut mempunyai beberapa fungsi yaitu:
1)      Fungsi Korektif, yaitu memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru. Jadi maksud dari fungsi korektif ini adalah mengoreksi, memperbaiki, atau membetulkan segala sesuatu yang berkaitan dengan segala kegiatan belajar yang belum memenuhi atau mencapai target yang telah ditentukan. 
2)      Fungsi Pemahaman, siswa diharapkan mampu memahami masalah-masalah lain yang terkait dalam belajar, khususnya memahami materi pelajaran yang belum dipahami. Selain itu juga dapat membuat guru lebih memahami keadaan siswanya sehingga dapat lebih cepat mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa.
3)      Fungsi Penyesuaian, yaitu kegiatan remedial ini diharapkan siswa mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan yang ada dalam proses belajar mengajar, yakni menguasai materi pelajaran yang diharapkan. Selain itu siswa dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang akan membawa siswa kepada pencapaian tujuan pengajaran secara optimal.  
4)      Fungsi Akselarasi, maksudnya adalah pengajaran perbaikan dapat mempercepat proses belajar, baik dari segi waktu maupun materi.
5)      Fungsi Terapeutik, apabila merujuk kepada pengertian remedial yaitu memperbaiki, dan bila dikaitkan dengan fungsi terapeutik.
Maka kegiatan remedial dapat mengoreksi, membetulkan, menyesuaikan, lebih memahami dan mempercepat pencapaian tujuan dari proses belajar mengajar, sehingga pada akhirnya pengetahuan dan keterampilan siswa meningkat dan memiliki hasil belajar yang lebih baik.[24]



[1] Rahman Natawijaya, Pengajaran Remedial, (Jakarta: Depdikbud, 1984), h. 5
[2] Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawan, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993), h. 103   
[3] Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Kependidikan, Perangkat Sistem Pengajaran Modul, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), h. 345
[4] Ischak SW dan Warji R, Program Remedial Dalam Proses Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Liberti, 1991), h. 33-34
[5] M Entang, Diagnosa kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial, (Jakarta: Dep. P dan K, 1984), h. 10
[6] Moh. Uzer Usman dan Lilis, Op. Cit, h. 103-104
[7] http://leedzabout.blogspot.com/2009/02/disini-ada-makalah-tentang-remedial.html
[8] B. Suyosubroto Op. Cit, h. 8
[9] Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, Op. Cit, h. 105-108
[10] Abin Syamsudin Makmun, Op.Cit, h. 345
[11] Ibid, h.346
[12] Hallen A, Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 129
[13] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rhineka Cipta, 1997), h. 140
[14] Abin Syamsudin Makmun Loc. Cip, h. 347
[15] Ibid,h. 348
[16] http://teknik-mesin06.blogspot.com/2009/01/prosedur-pengajaran-remedial.html
[17] Abin Syamsudin Makmun, Op.Cit, h.389
[19]  Ibid, h. 350
[20] Ibid., h. 107
[21] Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 201-202
[22] http://st290171.sitekno.com/?pg=article=5428
[23]  Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, Perangkat Sistem Pengajaran Modul, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 354
[24] http://sman 1 perbaungan.Org/?=294 

0 Comment