14 November 2012

Oleh: Zilfaroni 
       A.    Pendahuluan
Sabar merupakan akhlak Qur’ani yang paling utama dan ditekankan oleh al-Qur’an, baik pada surat makiyah maupun madaniyah, juga merupakan sifat akhlak yang terbanyak sebutannya dalam al-Qur’an.
Secara umum sabar itu ditujukan kepada manusia dan secara khusus sasarannya adalah orang yang beriman. Orang beriman akan selalu menghadapi tantangan, gangguan, ujian dan cobaan dengan sabar, yang menuntut pengorbanan jiwa dan harta benda yang berharga bagi mereka.

Dalam makalah ini penulis akan berusaha menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan sabar dalam al-Qur’an.

B.     Pengertian Sabar

Al-Qur’an sebagai petunjuk, maka sudah barang tentu isi atau kandungannya harus difahami dan di amalkan demi tercapainya tingkat dan kualitas ibadah yang baik dan mendapat ridha Allah SWT. Oleh karena itu penulis akan paparkan pengertian sabar.
Secara etimologi sabar berasal dari bahasa arab, صبر – يصبر - صبرا yang berarti bersabar, tabah hati, berani.[1] Dalam bahasa Indonesia, sabar berarti: “tahan menghadapi cobaan, tabah, tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru nafsu.[2]

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah mengemukakan, sabar adalah menahan jiwa untuk tidak berkeluh kesah, menahan lisan untuk tidak meratap dan menahan untuk tidak menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.

Bertolak dari beberapa pendapat di atas, bahwa sabar merupakan sikap mental dan jiwa yang terlatih dalam menghadapi segala bentuk cobaan, yang terlahir dan tumbuh atas dorongan agama, serta ketabahan dan menerima dengan ikhlas cobaan yang menimpa, menahan diri dari segala macam dorongan hawa nafsu, mempunyai sikap mental tahan uji, teguh dan tidak putus asa serta tetap taat kepada perintah Allah dengan terus berusaha dan berjuang demi memperoleh ridha-Nya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

C.    Bentuk-Bentuk Sabar
Kehidupan manusia sebenarnya penuh dengan pergulatan, dan kemenangan dalam pergulatan ini sangat tergantung pada sejauh mana kesabaran yang dimiliki seseorang dalam menghadapi pergulatan itu. Karena sabar merupakan jalan yang bisa membawa seseorang pada kemenangan yang di inginkan, senjata yang efektif untuk menaklukkan musuh, apapun bentuknya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak.

Jika kita telusuri berbagai ayat al-Qur’an maupun hadis, maka akan kita dapati bahwa kata “sabar” kerap kali diungkapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Namun kesemuanya tetap bermuara pada satu tujuan, yaitu kesuksesan dan kemenangan. Dan kesabaran tersebut antara lain meliputi tempat dan situasi berikut:

1.      Sabar dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan[3]
Mengerjakan semua yang diperintahkan Allah dan menghindari larangan-Nya, pada dasarnya adalah kewajiban. Karena itu, tidak aneh bila seseorang merasa berat sehingga memerlukan usaha yang gigih agar bisa mengalahkan musuhnya yang nyata, baik musuh berupa hawa nafsu maupun hasutan syaitan. Maka untuk menghadapi semua ini diperlukan kesungguhan yang luar biasa dari manusia, sehingga ia kokoh dalam pendirian dan menjadikan nafsunya mengikuti syari’at Allah, kesungguhan tersebut meliputi kesabaran, pengorbanan dan usaha yang gigih. Allah berfirman:
   
Artinya: Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mampu menahan nafsunya sehingga sesuai dengan apa yang diridhai Allah, yang tercermin dalam ketaatan dan komitmennya dalam meninggalkan kemaksiatan, maka ia benar-benar telah mengalahkan musuh halusnya, mengalahkan nafsu dan syaitan yang selalu berusaha menyesatkannya. Inilah kemenangan yang tiada tandingannya.

2.      Sabar terhadap musibah[4]

Yaitu menahan diri dan tidak mengeluh ketika terkena musibah. Ini adalah bentuk sabar yang paling ringan, karena sesuatu itu sudah terjadi di depannya, dan dia tidak bisa menghindarinya, artinya dia bersabar atau tidak bersabar sesuatu itu sudah terjadi. Akan tetapi walaupun begitu, masih banyak dari kaum muslimin yang tidak bisa sabar ketika tertimpa musibah. Sabar dalam bentuk ini tersebut dalam firman Allah swt :

tinya; Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.( QS Al Baqarah : 155 )

Manusia senantiasa terancam bencana, baik yang menimpa jiwa, harta, keluarga, maupun ketenangan dan kenyamanannya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa bencana tersebut jika terjadi merupakan pukulan yang berat bagi manusia, dan tak jarang menimbulkan keputus asaan. Allah melukiskan:
 
Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.

Namun kondisi seperti ini hanya dialami mereka yang kalah, dan ia pun tidak bisa menemukan kemenangan dalam kehidupan ini. Karena itu, Allah mendorong agar seorang mukmin tetap tegar dalam menghadapi musibah yang memang tidak bisa dielakkan, hingga bisa menemukan jalan yang mampu membawa kepada  kesuksesan dan kemenangan. 

3.      Sabar terhadap perlakuan yang tidak baik dari orang lain[5]
Dalam hidupnya manusia berbaur dengan berbagai jenis manusia, dengan akhlak dan tabiat yang beragam. Dengan demikian, sangat mungkin seseorang menerima tindakan sewenang0-wenang dari orang lain. Jika seseorang merasa risau dengan kondisi seperti ini, maka ia akan selalu menuai kekecewaan dan kerugian. Namun jika ia mampu menahan dan bersabar, memaafkan dan lapang dada, maka ia akan beruntung dan hidup dengan penuh kebahagiaan dan dalam nuansa yang sarat dengan kasih sayang. Dalam rangkaiaannya Allah berfirman:

Artinya: Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

D.    Ayat-ayat tentang Sabar dalam al-Qur’an

Sabar termasuk akhlak yang paling utama yang banyak mendapat perhatian al-Qur’andidalam surat-suratnya baik makiyyah maupun madaniyyah. Ia adalah akhlak yang paling banyak diulang penyebutannya didalam al-Qur’an.
Imam al-Ghazali berkata: “Allah SWT menyebutkan sabar didalam al-Qur’an lebih dari 70 tempat.
Ibnul Qayyim mengutip perkataan imam Ahmad: “sabar” didalam al-Qur’an terdapat di sekitar 90 tempat.
Didalam al-Mu’jam al-Mufahras li alfadz al-Qur’an, asal kata ص -ب - ر  dengan semua pecahan katanya disebutkan di dalam al-Qur’an lebih dari 100 kali.

Q.S. al- Syura : 43
Q.S. al- Ahqaf : 35
صبر
Q.S. al- Ra’du : 24
Q.S. al- Nahl : 126
صبرتم
Q.S. Ibrahim : 21
Q.S. al- Furqan : 42
صبرنا
Q.S. al- An’am : 34
Q.S. al- A’raf : 37
Q.S. Hud : 11
Q.S. al- Ra’du : 22
Q.S. al- Nahl : 42
Q.S. al- Nahl : 96
Q.S. al- Nahl : 110
Q.S. al- Mukminun : 111
Q.S. al- Furqan : 75
Q.S. al- Qasas : 54
Q.S. al- Ankabut : 59
Q.S. al- Sajadah : 24
Q.S. al- Fusilat : 35
Q.S. al- Hujarat : 5
Q.S. al- Insan : 12
صبروا
Q.S. al- Kahfi : 68
تصبر
Q.S. Ali Imran : 120
Q.S. Ali Imran : 125
Q.S. Ali Imran : 186
Q.S. an- Nisa’ : 25
Q.S. al- Tur : 16
تصبروا
Q.S. al- Furqan : 20
أتصبرون
Q.S. al- Baqarah : 61
نصبر
Q.S. al- Ibrahim : 12
ولنصبرن
Q.S. Yusuf : 90
يصبر
Q.S. al-Fusilat : 24
يصبروا
Q.S. Yunus : 109
Q.S. Hud : 49
Q.S. Hud : 15
Q.S. al- Nahl : 127
Q.S. al- Kahfi : 68
Q.S. Taha : 130
Q.S. al- Rum : 60
Q.S. Luqman : 17
Q.S. Shad : 18
Q.S. Gafir : 55
Q.S. Gafir : 77
Q.S. al- Ahqaf : 30
Q.S. Qaf : 39
Q.S. al- Tur : 48
Q.S. al- Qolam : 48
Q.S. al- Ma’arij : 5
Q.S. al- Muzammil : 10
Q.S. al- Mudassir : 7
Q.S. al- Insan : 24
إصبر
Q.S. Ali Imran : 200
اصبرو
Q.S. al- A’raf : 87
Q.S. al- A’raf : 128
Q.S. al- Anfal : 46
Q.S. Shad : 6
Q.S. al-Tur : 16
فاصبروا
Q.S. Ali Imran : 200
صابروا
Q.S. al-Baqarah : 175
ما اصبرتم
Q.S. Maryam : 19
اصطبرنا
Q.S. Taha : 132
Q.S. al- Qamar : 27
اصطبر
Q.S. al- Baqarah : 45
Q.S. al- Baqarah : 153
Q.S. Yusuf : 18
Q.S. Yusuf : 83
Q.S. al- Balad : 17
Q.S. al- ‘Ashr : 3
الصبر
Q.S. al- Baqarah : 250
Q.S. al- A’raf : 126
Q.S. al- Kahfi : 67
Q.S. al- Kahfi : 72
Q.S. al- Kahfi : 75
Q.S. al- Kahfi : 78
Q.S. al- Kahfi : 82
Q.S. al- Ma’arij : 5
صبرا
Q.S. al- Nahl : 127
صبرك
Q.S. al- Kahfi : 69
Q.S. Shad : 44
صابرا

Q.S. al- Anfal : 65
Q.S. al- Qasas : 70
Q.S. al- Zumar : 10
الصابرون
Q.S. al- Baqarah : 53
Q.S. al- Baqarah : 155
Q.S. al- Baqarah : 177
Q.S. al- Baqarah : 249
Q.S. Ali Imran : 17
Q.S. Ali Imran : 142
Q.S. Ali Imran : 146
Q.S. al- Anfal : 46
Q.S. al- Anfal : 66
Q.S. al- Nahl : 126
Q.S al-Anbiya’ : 85
Q.S. al- Hajj : 35
Q.S. al- Ahzab : 35
Q.S. al- Shofat : 102
Q.S. Muhammad : 31
الصابرين
Q.S. al- Anfal : 66
صابرة
Q.S. al- Ahzab : 35
الصابرات
Q.S. al- Ibrahim : 12
Q.S. Luqman : 31
Q.S. Saba’ : 19
Q.S. al- Syura : 33
صبار

Perbedaan perhitungan diatas tidaklah bertentangan karena didalam satu tempat kadang-kadang asal kata ص ب ر disebutkan lebih dari sekali, sebagian ulama menganggapnya satu tempat dan sebagian lainnya menganggap dua tempat atau lebih.
E.     Pemahaman Ayat tentang Sabar
Setelah penulis menampilkan ayat-ayat yang mengandung kata sabar maka pada bagian ini penulis akan menjelaskan beberapa penafsiran ulama tentang kata tersebut, namun karena banyaknya ayat yang berkaitan dengan kata “sabar” ini, maka penulis hanya akan menjelaskan penafsiran para ulama pada sebagian ayat yang terdapat dalam surat al-Baqarah.
1.      Q.S al-Baqarah : 45
 
Artinya: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

Ayat ini dipesankan dalam rangka nasihat kepada pemuka-pemuka yahudi, untuk merangkul mereka ke dalam suasana Islam, supaya minta tolong kepada Tuhan, pertama dengan sabar, tabah, tahan hati dan teguh, sehingga tidak berkucak bila dating gelombang kesulitan. Maka adalah sabar sebagai benteng. Dengan shalat, supaya jiwa itu selalu dekat dan lekat kepada Tuhan.

Kata “sabar” artinya menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan di hati, ia juga berarti ketabahan. Imam al-Ghazali mendefinisikan sabar sebagai ketetapan hati melaksanakan tuntutan agama menghadapi rayuan nafsu.
Secara umum kesabaran dapat dibagi dalam dua pokok: pertama, Sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang melibatkan keletihan atau sabar dalam peperangan membela kebenaran. Termasuk pula dalam kategori ini, sabar dalam menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiayaan dan semacamnya. Kedua, adalah sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan, seperti sabar menahan amarah, atau menahan nafsu lainnya.[6]

2.      Q.S al-Baqarah : 153

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Maksud ini adalah maksud yang besar. Suatu cita-cita yang tinggi. Mene­gakkan kalimat Allah, memancarkan tonggak Tauhid dalam alam. Memberan­tas perhambaan diri kepada yang selain Allah. Apabila langkah ini telah dimulai, halangannya pasti banyak, jalannya pasti sukar. Bertambah mulia dan tinggi yang dituju, bertambah sukarlah dihadapi. Oleh sebab itu dia meminta semangat baja, hati yang teguh dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak mengenal lelah. Betapapun mulianya cita-cita, kalau hati tidak teguh dan tidak ada ketahanan, tidaklah maksud akan tercapai. Nabi-nabi yang dahulu daripada Muhammad SAW semuanya telah menempuh jalan itu dan semuanya meng­hadapi kesulitan.

Kemenangan mereka hanya pada kesabaran. Maka kamu orang yang telah menyatakan iman kepada Muhammad wajiblah sabar, sabar menderita, sabar menunggu hasilnya apa yang dicita-citakan. Jangan gelisah tetapi hendaklah tekap hati.

Sampai seratus satu kali kalimat sabar tersebut dalam al-Quran. Hanya dengan sabar orang dapat mencapai apa yang dimaksud. Hanya dengan sabar orang bisa mencapai derajat Iman dalam perjuangan. Hanya dengan sabar menyampaikan nasihat kepada orang yang lalai. Hanya dengan sabar kebena­ran dapat ditegakkan.[7]

Menurut Prof. M. Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al-Misbah, beliau berpendapat bahwa kata Ash-Shabr (sabar) yang dimaksud mencakup banyak hal,[8] sabar menghadapi ejekan dan rayuan, sabar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, sabar dalam petaka dan kesulitan serta sabar dalam berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

Penutup ayat yang menyatakan sesungguhnya Allah bersama orang- orang yang sabar mengisyaratkan bahwa jika seseorang ingin teratasi penyebab kesedihan atau kesulitannya, jika ia ingin berhasil memperjuangkan kebenaran dan keadilan, maka ia harus menyertakan Allah dalam setiap langkahnya. Ia harus bersama Allah dalam kesulitannya dan dalam perjuangannya. Ketika itu, Allah yang Maha Mengetahui, Maha Perkasa lagi Maha Kuasa pasti membantunya, karena Dia pun telah bersama hamba-Nya. Tanpa kebersamaan itu, kesulitan tidak akan tertanggulangi bahkan tidak mustahil kesulitan di perbesar oleh setan dan nafsu amarah manusia sendiri.

Karena kesabaran membawa kapada kebaikan dan kebahagiaan, maka manusia tidak boleh berpangku tangan, atau terbawa kesedihan oleh petaka yang di alaminya, ia harus berjuang dan berjuang. Memperjuangkan kebenaran, dan menegakkan keadilan, dapat mengakibatkan kematian. Puncak petaka yang memerlukan kesabaran adalah kematian, maka ayat selanjutnya mengingatkan setiap orang untuk tidak menduga yang gugur dalam perjuangan di jalan Allah telah mati. Mereka tetap hidup. Mereka hidup, walau tidak disadari oleh yang menarik dan menghembuskan nafas.

Sejalan dengan pendapat Prof. M. Quraish Shihab dalam bukunya ”Menyingkap Tabir Ilahi Asma al Husna dalam Perspektif Al-Quran” menyatakan bahwa Sebagaimana Prof. Quraish Shihab memberikan penjabaran yang lain dari kata sabar yakni kata ”As-Shabur” terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf- huruf shad, ba, dan ra’. Maknanya berkisar pada tiga hal. Pertama ”Menahan”, kedua ”Ketinggian sesuatu” dan ketiga, ”Sejenis batu”. Dari makna menahan”, lahir makna ”Konsisten/bertahan”, karena yang bertahan menahan pandangannya pada satu sikap. Seseorang yang menahan gejolak hatinya, dinamai sabar, yang ditahan di penjara sampai nanti dinamai mashburah. Dari makna kedua lahir kata ”Shubr”, yang berarti puncak sesuatu dan dari makna ketiga, muncul makna kata ”As-subrah”, yakni ”batu yang kukuh lagi kasar”, atau ”potongan besi”.

Ketiga makna tersebut dapat kait berkait, apabila pelakunya manusia. Seorang yang sabar akan menahan diri dan untuk itu ia memerlukan kekukuhan jiwa dan mental baja, agar dapat mencapai ketinggian yang diharapkannya.

3.      Q.S al-Baqarah : 155-156
 
Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

Kemudian itu Tuhan teruskan lagi peringatanNya kepada kaum mu'min:

Artinya: "Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan sesuatu." (pangkal ayat 155).

Dengan sesuatu, yaitu dengan aneka warna,

"Dari ketakutan," yaitu ancaman-ancaman musuh atau bahaya penyakit dan sebagai­nya, sehingga timbul selalu rasa cemas dan selalu terasa ada ancaman. Yang berlaku di zaman Nabi ialah ancaman orang musyrik dari kota Makkah, ancaman kabilah-kabilah Arab dari luar kota Madinah yang selalu bermalaud hendak menyerang Madinah, ancaman fitnah orang Yahudi yang selalu meng­intai kesempatan dan ancaman orang munafik, dan ancaman bangsa Rum yang berkuasa di utara waktu itu.Æ

"Dan kelaparan" termasuk kemiskinan sehingga persediaan makanan sangat berkurang.

"Dan kekurangan dari hartabenda."

Sebab umumnya sahabat-sahabat Rasulullah yang pindah dari Makkah ke Madinah itu hanya batang tubuhnya saja yang keluar dari sana; hartabenda tidak bisa dibawa;

"dan jiwa-jiwa, "
ada yang kematian keluarga, anak dan isteri dan bapak, sehingga hidup melarat terpencil kehilangan keluarga di tempat kediaman yang baru;

"dan buah-buahan," karena tidak lagi mempunyai kebun­ kebun yang luas, terutama pohon kurma, yang menjadi makanan pokok pada masa itu. Semuanya itu akan kamu derita ! .
Demikian sabda Tuhan. Tetapi derita itu tidak lain ialah karena menegak­kan cita-cita.

"Dan berilah khabar yang menyukakan kepada orang-orong yang sabar." (ujung ayat 155).
Setelah di ayat 153 tadi dinyatakan kepentingan sabar dan shalat, di ayat ini diulangi lagi bahaya-bahaya, percobaan dan derita yang akan mereka tempuh. Disebut pahitnya sebelum manisnya. Orang yang akan menempuh derita itu hendaklah sabar.[9]

Hanya dengan sabar semuanya itu akan dapat diatasi. Karena kehidupan itu tidaklah membeku demikian saja. Penderitaan dirasai dengan merata. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan Uhud kehilangan pamannya yang dicintainya Hamzah bin Abdul Muthalib. Maka apabila mereka sabar menahan derita, selamatlah mereka sampai kelak ke seberang cita-cita. Tidak ada cita-cita yang akan tercapai dengan tidak memberikan pengorblnan. Berilah khabar kesukaan kepada mereka yang sabar itu.
4.      Q.S al-Baqarah : 177

Artinya: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.

“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan”. Disinilah kita bertemu kunci rahasia dari iman dan kebajikan. Di dalam membina iman dan kebajikan, syarat utamanya adalah sabar. Mulut bisa dibuka lebar untukmenyerukan iman. Beribu-ribu orang tampil kemuka menyerukan iman, tetapi hanya berpuluh yang dapat melanjutkan perjalanan. Sebahagian besar jatuh tersungkur ditengah jalan karena tidak tahan menderita, karena tidak sabar. Disini disebutkan ujian pertama ialah kepayahan, kedua ialah kesusahan. Pada saat itulah iman diuji. Orang  yang beriman berpandangan bahwa keadaan tidak akan selalu begitu saja, sesudah kesusahan pasti akan timbul kemudahan. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwasanya jalan kebajikan yang telah digariskan dalam ayat, yaitu sejak dari pada iman kepada Allah SWT dan hari akhirat, pada malaikat dan kitab serta nabi-nabi, sampai kepada kesudian berkurban, mengelluarkan harta benda yang dicintai untuk menolong orang-orang yang patut ditolong, sampai kepada mendirikan shalat dengan khusu’ dan mengeluarkan zakat dengan hati rela, dan keteguhan memegang janji, semua susunan  itu akan runtuh jika tidak ada sendi utamanya yaitu sabar.[10]

F.     Penutup
Dari ayat-ayat di atas terdapat beberapa pelajaran yang bisa kita petik dan dapat kita jadikan sebagai I’tibar dalam kehidupan antara lain:
1.      Shalat bukanlah beban. Ia adalah sarana untuk seseorang membina diri guna memperolah kesabaran dalam menghadapi musibah-musibah. Oleh sebab itu, ketika memerintahkan hamba-hambaNya untuk bersabar, Allah memerintahkan shalat yang merupakan penghubung terbaik antara manusia yang serba terbatas dengan kekuatan ilahi yang tak terbatas.
2.      Di dalam ujian-ujian ilahi, hanya orang-orang yang penyabarlah yang akan menang. Sementara orang lain tidak memiliki jalan untuk melarikan diri darinya karena ujian-ujian ilahi meliputi semua orang.
3.      Akar kesabaran ialah iman kepada Allah dan hari kiamat yang membuat manusia merasa mudah untuk menghadapi musibah-musibah dunia.
4.      Kesabaran dan istiqomah adalah sumber kebahagiaan manusia di dunia ini, sedangkan pahala akhiratnya jauh lebih besar lagi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN


Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, selanjutnya disebut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1089), cet ke-2

Mahmud Yunus, kamus Arab- Indonesia, (Jakarta:yayasan penyelenggara penterjemeh/penafsiran al-Qur’an, 1973)

Musthafa al-Buqha, Pokok-pokok Ajaran Islam, (Jakarta: Robbani Press, 2002)

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

Hamka, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983)



[1]Mahmud Yunus, kamus Arab- Indonesia, (Jakarta:yayasan penyelenggara penterjemeh/penafsiran al-Qur’an, 1973), h. 211
[2]Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia”, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), cet ke 3, h. 763
[3] Musthafa al-Buqha, Pokok-pokok Ajaran Islam, (Jakarta: Robbani Press, 2002) h. 197
[4] Ibid, h.199
[5] Ibid, h. 201
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) V.1 h.181
[7] Hamka, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983) Juz.2 h.21
[8]M. Quraish Shihab, Op.Cit. V. 1 h. 363
[9] Hamka, Op. Cit. h. 25
[10] Ibid,  Juz.2 h.78




0 Comment