14 November 2012

Oleh: Zilfaroni

A.    Pendahuluan

Risalah Islamiyah yang disampaikan oleh Rasululah s.a.w. Sangatlah sempurna, mulai dari hal kecil hingga yang berskala besar, dari aspek rohani hingga aspek jasmani. Islam senantiasa memberikan pilihan yang menentramkan hati dan merangsang optimalisasi peran akal kita sebagai umatnya untuk memilih dan memilah mana di antara faktor atau gejala yang ada di tengah masyarakat sekitar.

Di antara pilihan yang Allah s.w.t. berikan kepada kita adalah sikap dan perilaku kita di alam raya ini. Sebagaimana Allah jelaskan di awal surat al-Baqarah. Di mana Allah menjelaskan tipologi manusia ke dalam tiga kategori besar, yaitu; al-mu’min yaitu golongan yang ikhlash beragama karena Allah semata, dan yang sesuai antara lahir dan bathinnya, sesuai antara perbuatan dan perkataannya. Al-kafir yaitu golongan yang mencintai kekufuran secara lahir dan bathinnya. Al-munafiq yaitu golongan yang menyatakan iman secara lahir dengan lidahnya sedangkan bathinnya tidak beriman, hatinya kafir. Kelompok ini paling buruk, mereka kufur dengan kekafiran yang paling buruk pula, disebabkan kekafiran yang disembunyikannya itu.

Oleh sebab itu, dalam makalah ini penulis ingin mengungkap dan menjelaskan salah satu dari tiga tipologi manusia di atas, yaitu persoalan nifaq, atau dengan pelakunya yang dinamakan dengan munafiq, sebagai golongan manusia ketiga yang telah disebutkan pada bagian pertama surat al-Baqarah. Di dalam sub bahasannya akan penulis paparkan; makna nifaq, jenis-jenisnya, ayat-ayat al-Quran serta penafsiran-penafsiran beberapa mufassir; dengan maksud, setelah diungkap penafsiran ayat-ayat tersebut, maka sekurang-kurangnya akan ditemukan karakteristik manusia munafik yang digambarkan oleh Allah s.w.t. dalam al-Quran.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan yang penulis gunakan adalah studi kepustakaan (library research), dengan menelusuri berbagai sumber, baik kitab-kitab tafsir, kitab Mu’jam; (Mu’jam al-Mufahrasy li al-Fazh al-Quran al-Karim), maupun buku-buku atau sumber-sumber bacaan lain yang terkait dan relevan dengan pembahasan ini.

B.    Makna Nifaq (النفاق)

        Nifaq berasal dari kata: نافقا, yang berarti salah satu lubang tempat keluarnya Yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lubang yang satu, maka ia akan keluar dari lubang yang satunya lagi. نَفَق: “lubang tempat bersembunyi.” Menurut syara’: menampakan keislaman dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.

Menurut HAMKA (Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah), kata munafik atau nifaq itu merupakan asal, yang artinya ialah lubang tempat bersembunyi di bawah tanah. Lubang perlindungan dari bahaya udara, disebut “nafaq”. Beliau menyimpulkan bahwa dari sinilah diambil arti dari orang yang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, sebagai suatu pengicuhan atau penipuan.

Kemudian al-Raghib al-Ashfahaniy menjelaskan arti nifaq secara bahasa, yaitu: masuk ke dalam satu lubang dan keluar dari lubang pada pintu yang lain. Seperti yang beliau paparkan dalam defenisi :

النفَاقُ هو الدُخُولُ في الشرعي من باب و خروجُوا عنه من باب.

Untuk itu, orang munafik disebut dengan al-fasik : orang fasik karena ia keluar dari jalan syariat. Sesuai dengan akhir ayat ke-67 dari  surat al-Taubah:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Abd al-Rahman Faudah menyebutkan, kenapa disebut munafiq? Menurutnya, dari antara binatang ada satu jenis binatang yang diberi sifat buruk, cerdik dan suka menipu, binatang itu disebut اليَرْبُوْعُ : jenis tikus. Binatang ini suka membuat tempat tinggal dan tempat sembunyi dari dua buah batu. Salah satu dari batu itu muncul untuk menampakan dirinya. Batu  tempat munculnya ini disebutالقاصِعَاء , sedangkan batu yang lainnya tersembunyi tidak dapat dilihat, batu ini disebut: النفقاء. Apabila binatang itu dikejar dari arah batu al-qashi'a, ia memasukan kepalanya pada batuالنفقاء , lalu masuk bersembunyi di balik batu atau ia lari dari jalan ke luar yang lain. Karena itu orang yang suka menampakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya disebut .المنافق

Jalan yang dibuat di bawah tanah yang berujung pada tempat ke luar dari arah yang lain, disebut نَفَقٌ, binatang (حَيَوَانٌ خَبٍيْثٌ) dari kalangan manusia adalah المُنَافِقُ  dan busuk yang diberi kemampuan berupa kecerdasan dan kelicikan; lahirnya bersinar bathinnya gelap, ucapannya menyenangkan perbuatannya menyakitkan.

Nifaq merupakan sebuah penyakit yang ganas dan berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari penyakit fisik yang pernah ada di dunia ini, ia dapat menghinggapi di hati setiap muslim, dan penyebab utama mudah terjangkiti penyakit ini dikarenakan ketiadaan iman dan kurangnya pemahaman yang benar tentang Islam. Orang yang terjangkiti virus nifaq ini disebut munafiq.

Jadi, dapat dikatakan dalam istilah syariat; nifaq berarti perbuatan menampakkan keislaman dan kebaikan, namun menyembunyikan kekafiran serta kejelekan. Diistilahkan demikian karena pelakunya masuk ke dalam agama Islam dari sebuah pintu dan keluar melalui pintu yang lain. Jika diteliti secara seksama ayat-ayat yang menyinggung persoalan iman dan nifaq, maka sekurang-kurangnya akan ditemukan 160 ayat yang berbicara dan membahas persoalan tersebut secara bergandengan. Namun, dalam tulisan yang singkat ini tidak mungkin penulis paparkan secara keseluruhan, melainkan hanya ayat-ayat yang dianggap membicarakan poin-poin penting saja tentang persoalan nifaq tersebut.

C.    Jenis-jenis Nifaq

Di dalam kitab Qawaid al-Tafsir karya Khalid Ibn Utsman al-Sabt, dinyatakan bahwa para ulama telah membagi nifaq kepada dua bagian, yaitu nifaq i’tiqadi dan nifaq ‘amaliy.

1.    Nifaq I’tiqadiy

Maksudnya kemunafikan yang bersifat keyakinan. Dan ini merupakan nifaq yang besar, yaitu seseorang yang menyembunyikan keyakinan kafir lalu menampakan keislaman seolah-olah ia beriman, padahal di dalam hatinya menyimpan keyakinan kafir. Nifaq ini dapat dikategorikan kepada 6 bagian:

a.    Tidak mempercayai Rasul s.a.w.
b.    Mendustakan sebagian yang dibawa oleh Rasul s.a.w.
c.    Membenci Rasul s.a.w. secara mutlak
d.    Membenci sebagian dari risalah yang dibawanya
e.    Merasa senang jika mendengar agama Rasul s.a.w. direndahkan oleh orang yang menganut agama lain.
f.    Benci ketika mendengar berita menangnya agama Rasul s.a.w.

2.    Nifaq ‘Amaliy

Maksudnya adalah kemunafikan yang bersifat amalan atau perbuatan. Bentuknya bisa berupa perbuatan yang biasa dilakukan orang munafik atau salah satu sifat mereka, yang dilakukan orang yang masih beriman dan tidak memiliki keyakinan-keyakinan kekafiran seperti di atas. Misalnya berkata dusta, ingkar janji, khianat terhadap yang memberi amanah kepadanya, atau berbuat curang tatkala bertikai. Nabi s.a.w. bersabda:


أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خِصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Artinya: “Empat hal yang siapa keempatnya ada pada dirinya maka dia seorang munafik yang murni dan barang siapa yang terdapat pada dirinya salah satunya berarti ada pada dirinya sebuah kemunafikan: jika dipercaya berkhianat, jika berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika bertikai ia berbuat curang.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 207)

Melalui hadis ini Rasul s.a.w. ingin menggambarkan kepada umat Islam tentang ciri-ciri atau karakteristik orang-orang munafik, jika salah satu dari empat hal di atas ada pada diri seorang muslim, berarti ia sedang mengidap penyakit nifaq, yang harus diwaspadai oleh seluruh manusia khususnya orang-orang mu’min.

D.    Ayat-ayat al-Quran Tentang Nifaq

        Dengan menggunakan kata al-nifaq di dalam kitab Fathur al-Rahman, ditemukan pada beberapa ayat dan surat, yaitu: Q. S. al-An’am ayat 35, Q. S. at-Taubah ayat 77, 97 dan 101 . Kemudian jika kita merujuk kepada kitab al-Mu’jam al-Mufahrasy li alfadz al-Quran al-Karim, maka banyak ditemukan ayat-ayat yang memuat kata al-munafiq dan kata al-nifaq. Kata al-munafiq atau al-munafiqun dijumpai dalam 9 surat dan 24 ayat, yaitu: surat al-Anfal: 49, al-Taubat: 64, 67, 68, 73 dan 101, al-Ahzab: 12, 60, 24, 48, 73, al-Munafiqun: 1 sampai 8, Annisa’: 61, 88, 138, 140, 142, dan 145, al-Ankabut: 11, al-Fath: 6, dan surat al-Tahrim: 9. Dan kata al-nifaq dijumpai dalam satu surat dan dalam tiga ayat, yaitu: Annisa’: 77, 97 dan 101.  Kemudian juga dapat secara jelas ditemukan dalam surat al-Baqarah ayat 8 sampai 20, yang menjelaskan tentang ciri-ciri dan karakteristik orang-orang munafik mencakup hukuman serta ancamannya.

Dalam penafsiran, pada makalah ini penulis memfokuskan pembahasan kepada surat al-Baqarah ayat 8 sampai 20 dan surat al-Munafiqun ayat 1 sampai 8. Karena setelah penulis telusuri, ternyata ayat-ayat tentang nifaq yang ada dalam dua surat ini lebih terstruktur, lebih tegas, dan tuntas dalam menguraikan persoalan-persoalan nifaq tersebut.

1.    Surat al-Baqarah ayat 8 sampai 20

Abd al-Rahman Faudah menyebutkan , di antara ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang nifaq, ialah 13 ayat secara berurutan dalam surat al-Baqarah, mulai dari ayat 8 sampai ayat 20. Ayat yang menjelaskan tentang munafik ini, sebelumnya di awali dengan ayat yang menjelaskan orang mu'min yaitu ayat 1 al-Baqarah sampai ayat ke-5, kemudian diikuti dengan ayat yang menjelaskan orang kafir, dari ayat ke-6 al-Baqarah sampai ayat ke-7.

Selanjutnya ayat yang menjelaskan orang munafik mulai ayat ke-8 sampai ke-20. Urutan penjelasan tersebut menunjukan bahwa Allah s.w.t. menjelaskan golongan atau manusia yang ikhlas beragama karena Allah semata, yang sesuai antara lahir dan bathinnya, seimbang antara perbuatan dan perkataannya, yaitu al-mu'min. Kemudian Allah s.w.t menjelaskan golongan yang mencintai kekufuran secara lahir dan bathin, yaitu: al-kafir.

Kemudian dijelaskan 1/3 lagi setelah 2/3 di atas yaitu mu'min dan kafir. Yang 1/3 itu adalah orang atau kelompok yang menyatakan iman secara lahir dengan lidahnya, sedang bathinnya tidak demikian, hatinya kafir. Kelompok ini paling buruk, mereka kufur dengan kekafiran yang paling buruk, karena menyembunyikan kekafiran dengan cara mempermainkan dan penipuan.  Mereka itulah yang disebut dengan munafik.

Dari ke-13 ayat dalam surat al-Baqarah yang menjelaskkan tentang munafik, ditafsirkan oleh Ahmad Mustafa al-Maraghiy, bahwa Allah s.w.t. merendahkan sifat orang-orang munafik , yaitu:

a.    Kekejian atau kejahatan, ini ditunjukan oleh surat al-Baqarah ayat 8

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Artinya: di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

b.    Tipu daya atau tipu muslihat, al-Baqarah ayat 9

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Artinya: mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Dalam hal ini Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa mereka menipu orang-orang yang beriman seolah-olah mereka menipu Allah, menipu Nabi-Nya, menipu agama, dan menipu diri sendiri dengan menyembunyikan kekafiran dan menampakan keimanan.

c.    Membuka kejelekan
d.    Menganggap bodoh
e.    Mengolok-olokan, al-Baqarah ayat 16

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Artinya: mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

f.    Tuli, bisu dan buta, al-Baqarah ayat 18

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ

Artinya: mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).

g.    Perumpamaan yang buruk , al-Baqarah ayat 17 dan 19

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لا يُبْصِرُونَ

Artinya: perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api , Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Artinya: atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati . dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Abd al-Rahman Faudah , menyebutkan sifat-sifat orang munafik dari pemahaman ke-13 ayat dari surat al-Baqarah tersebut, yaitu:

a.  Hayawan al-khabits (binatang busuk), karena orang munafik mempunyai kemampuan, kepandaian dan tipu muslihat bagaikan binatang Yarbu’, masuk dari satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain.
b.  Al-kazbu (pendusta), seperti yang dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat yang ke-8.
c.  Al-khida’ (tipu daya), seperti yang dijelaskan pada ayat yang ke-9
d. Maradh al-Qalb (sakit hatinya), yaitu ia jabban (sangat penakut), husuud (dengki, aniaya, menurutkan hawa nafsu). Seperti yang terdapat pada ayat yang ke-10.

Quraish Shihab memahami في قلوبهم مرض)), gangguan yang menjadikan sikap dan tindakan mereka tidak sesuai dengan kewajaran. Ini menjadikan mereka memiliki akhlak yang sangat buruk, penyakit itu lahir akibat kemunafikan mereka.

e. Al-Fasadu wa al-Ifsad (busuk dan membuat kerusakan). Perbuatan orang-orang munafik baik dulu maupun sekarang, mereka masuk secara diam-diam dan tersembunyi pada barisan orang-orang yang beriman, untuk mengetahui berita dan rahasia orang mu’min, lalu memberitahukan kepada musuh-musuh orang-orang mu’min. Jika mereka dilarang membuat kerusakan, mereka memandang tidak membuat demikian, kecuali membuat kebaikan. Hal ini terjadi karena mereka telah kehilangan kesadaran indranya dan hati nuraninya. Seperti yang telah dijelaskan pada ayat yang ke-11.

f. Al-Safah wa al-Ghurur (bodoh dan tipu daya). Safah ialah “al-jahlu wa hiffatu al-hilmi”, yaitu bodoh dan lemah fikiran. Iman itu caranya dengan ilmu yang benar, pandangan yang bersih dan fikiran yang jernih. Jika seseorang mengatakan iman itu tidak demikian, berarti ia itu safah; bodoh dan lemah akal. Dan jika mereka dinasehati untuk menempuh jalan orang-orang yang benar, dan disuruh beriman kepada Allah, kitab dan Rasul-rasul-Nya, maka al-Ghurur atau tipu daya mempengaruhi mereka, dan mereka meyakini bahwa jalan mereka adalah benar, aturan hidup mereka adalah kuat, bahkan mereka menuduh orang-orang mu’minlah yang bodoh. Seperti yang diungkap pada ayat yang ke-13.

g. Tidak tetap pendirian dan ingin dilihat orang lain. Orang munafik adalah orang yang bermuka dua. Seperti yang terdapat pada ayat yang ke-14.

h. ‘Umyu al-Bashirah (buta hati dan pemikiran). Orang munafik bertambah sesat dan melewati batas, sehingga pandangan dan pikiran mereka tertutup, sehingga hati mereka menjadi buta. Seperti yang tercantum pada ayat yang ke-15. Kemudian Muhammad Hasbiy Ash-Shiddieqy menambahkan bahwa yang dimaksud oleh Allah dalam ayat ini adalah: Allah s.w.t. memberikan ganjaran kepada orang-orang munafik atas sikap mereka mengolok-olokan orang-orang yang beriman.

i. Tijaratun khatsirah (jual beli yang rugi). Jual beli itu mengharap untung dan bertambahnya harta, jika jual beli itu habis modalnya, maka jual beli itu rugi. Orang munafik kehilangan modal, yaitu cahaya iman, karena mereka menukar kesesatan dengan petunjuk. Seperti yang terdapat pada ayat yang ke-16.

j. Fi al-Zhulumat (dalam kesesatan). Orang munafik berada dalam kesesatan, bagaikan yang menyalakan api, saat api itu menyinari mereka, lalu api itu dipadamkan oleh Allah, mereka tetap dalam kesesatan. (al-Baqararah: 17)

k. Hilang rasa indera. Orang munafik diumpamakan oleh Allah dengan orang yang hilang rasa inderanya, karena mereka menutup pendengaran untuk menerima kebenaran, tidak menggerakan lidahnya terhadap kebenaran, dan tidak menggunakan pandangannya beri’tibar dari kebenaran, mereka bagaikan orang yang tuli, bisu dan buta. Seperti yang terungkap pada ayat yang ke-18.

l. Fasad al-taujih  (salah didikan). Ada yang bertanya, kenapa mereka (munafik) tidak beriman, padahal mereka telah memiliki ilmu, ini karena salah arahan, dan tertipu oleh bisikan setan, sehingga mereka kufur terhadap yang menciptakan, pemberi rezki dan yang membekali mereka akal pikiran. Contoh ini telah ditunjukan oleh Qarun pada zaman Nabi Musa a.s.

Dalam menyikapi ayat kedelapan sampai keduapuluh ini Sayyid Quthb menceritakan bahwa golongan munafik muncul pertama kali setelah Nabi s.a.w. berhijrah ke Madinah, dalam kondisinya yang seperti ini, mereka (orang-orang munafik) belum ada di Mekkah. Islam di Mekkah belum mempunyai daulat (kekuasaan) dan belum mempunyai kekuatan, bahkan belum mempunyai kelompok yang ditakuti oleh penduduk Mekkah, sehingga mereka perlu bersikap nifaq. Bahkan sebaliknya, Islam selalu diditindas, dakwah ditolak, dan diusir. Orang-orang yang bergabung dalam barisan Islam, maka itulah orang-orang yang tulus akidahnya.

Setiba di Madinah, Islam mulai mendapatkan kekuatan yang sudah patut diperhitungkan oleh setiap orang. Dan, beberapa orang terpaksa berpura-pura, banyak atau sedikit, khususnya setelah terjadinya perang Badar dan setelah kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang besar. Dan di antara yang berpura-pura itu adalah golongan pembesar dan para tokoh. Mereka dan kelompoknya memeluk Islam bertujuan untuk menyelamatkan warisan dan kepentingan mereka.

2.    Surat al-Munafiqun ayat 1-8

Surat al-Munafiqun termasuk surat-surat Madaniyah, dinamakan al-Munafiqun yang artinya orang-orang munafik, karena surat ini lebih banyak mengungkap karakter-karakter orang munafik. Jumlahnya 11 ayat; 8 ayat menjelaskan manusia munafik, mulai ayat 1 sampai 8, dan tiga ayat selanjutnya menjelaskan tentang orang-orang yang beriman, yaitu ayat ke-9 sampai 11.

Ahmad Mustafa al-Maraghiy  menjelaskan karakter manusia munafik dalam ayat ini. Yaitu:

a.    Pembohong, (al-Munafiqun: 1)

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Artinya: apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Orang munafik disebut pembohong karena tidak meyakini kebenaran yang mereka katakan, hatinya tidak sesuai dengan lidahnya dalam persaksian.

b.    Menjadikan sumpah palsu sebagai senjata atau perisai.

Mereka menjadikan sumpah mereka yang palsu dan bohong sebagai perisai untuk menjaga jiwa dan harta mereka, hingga mereka tidak dibunuh oleh orang kafir, dan saat orang mu’min menang dalam perang, maka mereka mendapatkan bagian harta ghanimah.

c.    Menghalangi jalan Allah s.w.t.

Al-Munafiqun: 2

فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah.

d.  Amal perbuatan mereka jelek
Mereka mengotori iman dengan kekafiran, dan menampakan sesuatu yang berbeda dengan yang ada dalam hatinya.

e.    Jelek hati mereka

Mereka beriman kemudian berubah menjadi kafir, amal ini dilakukan, karena jeleknya hati dan jahatnya keinginan mereka. Hati mereka dipatri, sehingga tidak ada hidayah, kebaikan tidak sampai kepada mereka, mereka buta pada petunjuk, tuli untuk mendengar kewajiban iman, mereka tidak mengerti.

f.    Tampilan mereka menarik tetapi bathinnya rusak

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ

Artinya: dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.

g.    Manis perkataan, tapi busuk jiwanya  (al-Munafiqun: 4)

وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ

Artinya: Dan  jika mereka berkata kamu mendengarkan Perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar.

Khadim al-Harmain al-Syarifain,  menafsirkan mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar, maksudnya ialah untuk menyatakan sifat mereka yang jelek, meskipun tubuh mereka bagus-bagus, dan mereka pandai berbicara, akan tetapi otak mereka kosong dan tidak dapat memahami kebenaran.

h.    Buruk sangka

Al-Munafiqun: 4

يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ

Artinya:  mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.

i.    Berpaling dan sombong. seperti yang dijelaskan pada ayat yang ke-5
j.    Melarang orang lain berinfak

Mereka berusaha menghalangi orang lain, jangan beri belanja kepada orang yang mengikuti Rasul s.a.w. agar mereka kelaparan, sehingga akhirnya mereka meninggalkan Rasulullah s.a.w.

k.    Bermaksud mengusir orang mu’min dan merasa lebih kuat

Orang-orang munafik yang hidup pada zaman Rasul dahulu bermaksud mengusir Nabi Muhammad dan para sahabatnya, karena mereka menganggap; lebih kuat, keras dan mulia. Sedangkan orang mu’min lebih lemah dari mereka, padahal tidak ada yang lebih kuat kecuali Allah s.w.t., ini menunjukan karakter orang munafik.

Kemudian jika diperhatikan ayat-ayat lain yang berbicara tentang nifaq dan pelakunya yang disebut dengan munafik, maka akan dijumpai banyak lagi karakteristik orang-orang munafik tersebut. Di antaranya:

a.    Sakit hatinya, dan memandang orang mu’minlah yang tertipu agamanya
b.    Takut terbongkar nifaq-nya dan mereka memperolokan Allah dan Rasul-Nya
c.    Menyuruh orang lain berbuat munkar dan melarang berbuat ma’ruf, taat dan menyuruh fasik.
d.    Memandang Allah dan Rasul-Nya penipu
e.    Penyebar berita bohong
f.    Berpaling dan tidak suka terhadap hukum Allah
g.    Sesat karena perilakunya sendiri
h.    Menipu Allah s.w.t, malas shalat, riya, tidak menyebut nama Allah, dan ragu-ragu
i.    Suka berprasangka buruk terhadap Allah s.w.t.
j.    Pengingkar janji dan pendusta

Begitulah Allah s.w.t. menjelaskan sifat-sifat orang-orang munafik di dalam al-Quran, agar orang-orang yang beriman hati-hati dan selalu waspada terhadap aksi dan tindakan mereka dalam melancarkan misi mereka untuk menghancurkan agama Allah dari permukaan bumi ini, orang-orang munafik lebih berbahaya dari orang-orang kafir, karena permusuhan mereka tidak tampak (tersembunyi).

E.    Kesimpulan

Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan nifaq adalah menyembunyikan suatu kebenaran (fakta), atau sesuatu yang tampak secara lahir berbeda dengan apa yang ada dalam bathin, dengan maksud untuk menipu dan mengicuh orang lain. Pelaku nifaq tersebut dinamakan dengan munafik. Nifaq dan pelakunya (munafik) ini muncul di kalangan umat Islam setelah Nabi s.a.w. hijrah ke Madinah, setelah Islam memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar, sehingga awalnya mereka adalah (orang-orang kafir) takut tertindas dan khawatir akan tidak terjaganya harta dan kehormatan mereka, maka mereka berpura-pura masuk Islam, dengan cara membenarkan dengan lisan, sementara hatinya mengingkari. Hal ini dilakukan oleh mayoritas para tokoh dan pemuka-pemuka kafir quraisy.

Al-Quran begitu banyak mengulas dan menguraikan secara tegas tentang gambaran, ciri-ciri, karakteristik, serta hukuman dan ancaman bagi pelaku munafik. Hal ini tentunya bertujuan agar umat Islam selalu waspada dalam menjalani kehidupan, baik demi kemashlahatan dirinya sebagai individu, maupun demi kemurnian risalah Islamiyah sampai akhir zaman. Sebab, musuh nyata bagi umat Islam sudah pasti orang-orang kafir. Namun, permusuhan dan perlawanan dari kelompok-kelompok munafik tak kalah bahayanya dari orang-orang kafir tersebut, mereka akan terus-menerus menjadi musuh dalam selimut bagi orang-orang yang beriman sampai akhir zaman.

F.    Kritik dan Saran

Demikianlah yang dapat penulis kemukakan tentang makna nifaq di dalam al-Quran dalam makalah ini, semoga bisa menjadi suatu bahan untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah s.w.t.

Akhir kata, penulis menyadari makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis membukakan peluang bagi pembaca agar bersedia memberikan kritikan dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan untuk masa yang akan datang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-Quran al-Karim

Al-Sabt Khalid ibn Utsman, Qawaid al-Tafsir, Dar Ibnu ‘Affan, 1421 H.

Al-Maqdisiy Fadhillah Husaini, Fathur al-Rahman “Lithalib Ayat al-Quran”, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Ash-Shiddieqy Muhammad Hasbi, Tafsir al-Bayan, Bandung: PT. Ma’arif, 1977

Abd al-Baqi’ Muhammad Fuad, al-Mua’jam al-Mufahrasy li al-Fadz al-Quran al-Karim, Beirut-Libanon: Dar al-Ma’rifah, 1992

Al-Jauzi Ibnu, Zad Al-Masir fi Ilmi Tafsir, Beirut: Maktabah al-Islamiy, 1965

Al-Maraghiy Ahmad Mustafa, Tafsir al-Maraghiy, Beirut-Libanon: Dar al-Fikr, 1971

Al-Ashfahaniy al-Raghib, Mu’jam al-Mufradat al-Fadz al-Quran, Beirut-Libanon: Dar al-Kutb al-Ilmiah, 2004

Faudah Abd al-Rahman, Min Ma'ani al-Quran, Dar al-Kitab al-Arabiy, t.th.

HAMKA (Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah), Tafsir al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982

Shihab Muhammad Quraish, Tafsir al-Mishbah “Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran”, Jakarta: Lentera Hati, 2005

Quthb Sayyid, Tafsir Fi Zhilal al-Quran, [Beirut: Darusy Syuruq, 1992], Terjemahan: As’ad Yasin, dkk., Di Bawah Naungan al-Quran, Jakarta: Gema Insani, 2000

Syarifain Khadim al-Harmain, al-Quran wa al-Tarjamatu al-Ma’anihi, (Saudi Arabia: Malik al-Fahd Li Thiba’at al-Mushaf al-Syarif, t.th.


0 Comment