18 Maret 2023

Syekh Thaher Djalaluddin al-Falaki al-Minangkabawi  (1869-1956)

Seperti halnya Syekh Ahmad Khatib, saudara sepupu,[1]Mufti Mekkah itu, Syekh Thaher Jalaluddin lebih betah tinggal dan meniti karir keulamaannya di tanah seberang, jauh dari kampung halamannya Minangkabau. Syekh Thaher ialah seorang ulama terkemuka, masyhur selaku ahli Falaq Asia Tenggara dan Beliau dikenal pula sebagai salah satu tokoh penebar angin pembaharuan setelah Syekh Ahmad Khatib.

Beliau dilahirkan pada tahun 1869, di Ampek Angkek Bukittinggi. Pada tahun 1880 Syekh Thaher berangkat ke Mekah untuk menuntut ilmu. Tak kurang selama 13 tahun beliau menghabiskan waktu, belajar di Mekah (1880-1893). Tak puas dengan ilmu yang diperolehnya di Mekah, beliau melanjutkan pengembaraan intelektual beliau ke Mesir, tepatnya di al-Azhar. Disini beliau bermukim selama 3 tahun. Kemudian beliau kembali ke Mekah, dan pada tahun 1998, beliau meninggalkan Mekah dan menetap di Malaya.[2] Karena dedikasinya, beliau sempat diamanahi sebagai Mufti Perak, tapi tawaran itu kemudian diletakkannya, lalu beliau mendirikan sekolah Agama di Johor.

Dari tanah Malaya itu, tepatnya Singapura, Syekh Thaher Jalaluddin menerbitkan Majalah al-Imam.  Majalah ini menjadi terkenal, sebab majalah ini menjadi corong menyuarakan pembaharuan ala Muhammad Abduh (Mesir).[3] Hal ini menjadi wajar, sebab Syekh Thaher pernah bersinggungan langsung dengan Muhammad Abduh dan Majalah al-manar-nya sewaktu di Mesir. Al-Imam kemudian menginspirasi kaum Muda Minangkabau untuk berbuat hal serupa, yakni menerbitkan al- Moenir di Padang.

Syekh Thaher juga dikenal sebagai seorang ulama yang produktif. Beberapa karya telah mampu dihasilkannya dalam berbagai bidang, di antaranya Falaq dan tulisan-tulisan untuk menanggapi isu-isu agama yang beredar kala itu. Diantara karya beliau yang dapat diidentifikasi ialah:

1)      Perisai Orang Beriman, Pengisai Mazhab Orang Qadiyan

Karya ini merupakan satu bantahan keras terhadap Ahmadiyah Qadiyani yang saat itu hangat diisukan karena mulai masuk ke tanah Melayu. Menurut keterangan Hamka, Ahmadiyah masuk ke negeri Minangkabau di era-20-an, dibawa oleh beberapa murid Thawalib Padang Panjang setelah berguru kepada juru dakwah Ahmadiyah, Rahmat Ali, di Tapak Tuan, Aceh. Karena Sumatera gersang untuk faham serupa Ahmadiyah, lalu Rahmat Ali pindah ke Jakarta, sebab disana lebih subur.[4] Kasus Ahmadiyah ini telah menjadi pembicaan hangat pula di awal abad XX tersebut, para ulama di Minangkabau menyatukan langkah untuk menolak aliran ini. diantaranya Syekh Thaher dengan risalah Perisai-nya ini.

Risalah ini menjadi menarik, sebab Syekh Thaher merinci menjelasannya dalam menjelaskan ajaran Ahmadiyah yang sesat. Dengan mempelajari kitab-kitab Ahmadiyah yang ditulis imamnya Mirza Ghulam Ahmad, Syekh Thaher lalu mengoreksi setiap tafsiran ungkapan yang meleset dalam karya-karya itu. Mengenai keadaan ketika Ahmadiyah bertunas di alam Melayu, Syekh Thaher berujar:

Pada masa ini bangkit pula ribut taufan fitnah kesesatan, dan bertaburan seruan kekarutan, dan berhamburan karang- karangan dalam surat-surat kabar hari-harian disebelah tanah air yang sangat dikasihi pada perkara al-Qadiyani yang sangat menyalahi nash agama dan aqa’id ahli Iman.[5]

Risalah ini diterbitkan di Singapura, pada percetakan Setia Press, tahun 1930.

2)      Natijatul Umur: Pendapatan kira-kira Pada Taqwim Tarikh Hijri dan Miladi, Hala Qiblat dan Waktu Sembahyang yang Boleh digunakan selama Hidup.

Syekh Thaher memang masyhur sebagai ahli Falaq terkemuka, bahkan beliau pernah membuat kagum ilmuan- ilmuan astronomi Inggris dimasanya. Pada tahun 1911 beliau pernah di undang ke Inggris menghadiri upacara perayaan mahkota King George. Ketika itu para ilmuan di negera tersebut menguji Syekh Thaher untuk menentukan arah perjalanan bintang dimalam hari. Setelah Beliau kaji, rupanya hasil yang beliau dapati ternyata benar, sehingga membuat ilmuan di daerah itu terpukau. Salah satu hasil eksakt-nya ialah Risalah ini.

Dalam Natijah Umur ini Syekh Thahir telah merinci waktu untuk mengetahui awal-awal bulan, mengenal waktu shalat dan mengetahui arah Kibrat, yang dapat dipakai seumur hidup. Syekh Thaher telah merangkum satu rumus sederhana dan sangat berguna dalam Risalah ini. pada halaman pembukanya, Syekh Thahir menjelaskan betapa pentingnya mengetahui ilmu ini, dengan mengambil argumen beberapa kaedah Ushul.[6]

Kitab ini dicetak pada tahun 1936 tanpa mencantumkan penerbitnya. Dicetak dalam format kecil, dengan maksud agar mudah dibawa dan dipergunakan.

Karya-karya Syekh Thaher yang lainnya ialah:[7]

1.      Irsyadul Khaidhi lil ‘Ilmil Fara’id (pembagian harta pusaka)

2.      Huraian yang membakar, taman persuraian Haji (polemik Qabliyah Jum’at)

3.      Ithaful Murid fi Ilmit Tajwid (ilmu Tajwid)

4.      Ta’yidud Tazkirah (khilafiyah Qabliyah Jum’at

5.      Jadwa’il Pati Kiraan (tentang Falaq)

6.      Nukhbatut Taqrirat (tentang Falaq)

7.      Al-Qiblah fi Nushush Ulama Syafi’iyyah (tentang Falaq)

8.      Kiriman Seni pada Huruf Ma’ani

9.      Ke Tanah Inggris

10.  Kamus Bahasa Melayu

11.  Kaifiyyatul Amal fil Wasiyat

12.  Sya’ir Kelakuan Jima’ dengan Istri

13.  Cerita Perang Paderi

 

REFERENSI

 



[1] Ibu Syekh Thaher (Gandam Urai) dan Ibu Syekh Ahmad Khatib (Limbak Urai) kakak beradik. Lihat Hamka, Islam dan Adat…, op. cit., hal. 153- 154

[2] Tim Penulis, Beberapa Ulama…op. cit., hal. 126; Hamka, Ayahku…, op. cit., hal. 274-275; Hamka, Islam dan Adat…, op cit., hal. 169- 170; Tim Islamic Centre, Riwayat Hidup…, op. cit., hal. 94-95

104 Burhanuddin Daya, op. cit., hal. 12

[3] Syekh Thaher dalam usaha penerbitan ini bertindak sebagai pemimpin redaksi, nama-nama lain yaitu Sayyid Ahmad al-Hadi sebagai penyumbang tulisan, H. Abbas bin Muhammad Thaha sebagai pemimpin redaksi, Muhammad Salim al-Kalali sebagai direktur. Baca Azyumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (Bandung: MIZAN, 2002) hal.

187. untuk mengetahui sepak terjang majalah al-Imam ini, baca hal. 186-197 

[4] Hamka, Ayahku…, op. cit., hal. 137-141

[5] Syekh Thaher Jalaluddin al-Minangkabawi, Ini Perisai Orang Beriman, Pengisai Mazhab Orang Qadiyan (Singapura: Setia Press, 1930) hal. 3

[6] Syekh Thaher Jalaluddin al-Minangkawi, Natijatul Umur: Pendapatan kira-kira Pada Taqwim Tarikh Hijri dan Miladi, Hala Qiblat dan Waktu Sembahyang yang Boleh digunakan selama Hidup (t. tp. : t. th, 1936) hal. 3

[7] Tim Islamic, Riwayat Hidup…, op. cit., hal. 104; Tim Penulis, op. cit., hal. 131-134

 

0 Comment