24 Februari 2012


PENDAHULUAN.
    A.    Latar Belakang
Dinasti Fatimiyah atau disebut juga al-Fathimiyyun adalah satu-satunyaDinasti Shi’ah dalam Islam yang penamaannya dinisbatkan kepada Fatimah al-Zahra, putri nabi Muhammad SAW. Kebangkitan Dinasti ini berasal dari suatutempat yang kini dikenal sebagai Tunisia ( Ifriqiyyah ) ketika Dinasti Abbasiah dibaghdad mulai melemah. Dinasti Fatimiyah ini adalah salah satu dinasti Islam yang beraliran Syi’ah Isma’iliyah yang lahir di Afrika utara pada tahun 909 Msetelah mengalahkan Dinasti Aghlabiyah di Sijilmasa.
Dalam sejarah, kejayaan Dinasti Fatimiyah dating setelah pusatkekuasaanya dipindahkan dari tunisia (al-Mahadiah) ke Mesir. KekhalifahanFatimiyah lahir sebagai manisfestasi dari idealisme orang-orang Syi’ah yangberanggapan bahwa yang berhak memangku jabatan imamah adalahketurunan dari Fatimah binti Rosulullah. Kekhalifahan ini lahir di antara duakekuatan politik kekhalifahan, Abbasiah di Baghdad, dan Umayyah II diCordova. Sebenarnya golongan Syi’ah sudah lama mencita-citakan berdirinyakekholifahan sejak pudarnya kekhalifahan Ali bin Abi Tholib di Kufah. Merekaselalu mendapat tekanan-tekanan politik semasa periode Kekhalifahan Umayahmaupun Abbasiah. Dalam kegiatan politiknya, mereka melakukan gerakantaqiyah yang kelihatannya taat terhadap penguasa tetapi sebenarnya merekamenyusun kekuatan secara diam-diam.

B.Rumusan Masalah

1.      Bagaimanakah Proses berdirinya Dinasti Fatimiyah?
2.      Siapa sajakah para penguasa Dinasti Fatimiyah?
3.      Bagaimanakah kemajuan peradapan Dinasti Fatimiyah?

C.Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui Proses berdirinya Dinasti Fatimiyah.
2. Untuk mengetahui para penguasa Dinasti Fatimiyah.
3. Untuk mengetahui kemajuan peradapan Dinasti Fatimiyah

BAB II PEMBAHASAN

A.          PROSES BERDIRINYA DINASTI FATIMIYAH
Dinasti Fatimiyah atau disebut juga al-Fathimiyyun adalah satu-satunya Dinasti Syi’ah dalam Islam yang penamaannya dinisbatkan kepada Fatimah al-Zahra, putri nabi Muhammad SAW. Kebangkitan Dinasti ini berasal darisuatu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia ( Ifriqiyyah ) Kemunculan Dinasti ini seperti yang dikatakan JJ. Sounders adalah diakibatkan oleh tuntutan Imamah sebagai Khalifah atau pengganti Rasulallah setelah wafat. Lebih jauh ia mengatakan gerakan Syi’ah tersebut merupakan sebuah protes politik terhadap penguasa. dan sebagai tandingan bagi penguasa dunia Islam pada saat itu yang terpusat di Baghdad.

Protes politik tersebut dilakukan dengan jalan konfrontasi, sehingga para penguasa (Mu’awiyah dan Abbasiyah) tidak ragu-ragu membunuh keluarga  Ahl al-Bayt  dan mengintimidasi para pengikutnya.[1] Salah satu sekte Syi’ah yang mampu menampakkan diri pada abad X M. Tepatnya mulai 5 Januari 910 M/ 297 H  hingga 1171M / 567 H[2], adalah Shi’ah Isma’iliyah. Sekte Shi’ah ini menisbatkan dirinya kepada Imamiyah dan menyetujui penetapan ke enam para Imam yang pertama dari dua belas Imam. Menurut mereka, sesudah Ja’far al-Shadiq (Imam ke enam), Imamah tidaklah berpindah kepada putranya yang bernama Musa al-Kazim, akan tetapi berpindah kepada puteranya yang lain yakni Isma’il. Karena itulah mereka disebut dengan sekte Syi’ah Isma’iliyah. Namun para Imam yang mereka yakini dari garis keturunan Isma’il tersebut tidak pernah muncul, justru yang munculhanyalah juru dakwah (propagandis/ misionaris). Oleh karena itu, para Imamtersebut dinamakan al-Aimmah al-Masturun.

Para Imam Isma’iliyah baruakan muncul kembali setelah keadaan mereka bertambah kuat di Afrikautara pada tahun 297 H. / 909 M.[3] Para juru dakwah (propagandis/misionaris) tersebut terus melakukangerakan-gerakan revolusioner  diantara mereka yang cukup terkenal adalah Abu al-Khattab yang dihukum mati pada 755 M. Oleh pemerintah Abbasiyah, Abd Allah bin Maymun al Qaddah yang mengorganisir kelompok berpotensi revolusioner, dan Hamdan al Qarmati yang berasal dari Qarmat, sebuah kota kecil yang ada di Shiria.[4] Dia pernah membuat kewalahan Pemerintah Abbasiyah dan namanya kemudian dipakai untuk menyebut golongannya yaitu  Qaramit, mereka berhasil mempengaruhi penduduk di daerah Iraq, Suriyah, Bahrain dan Yaman.[5] 

Tokoh lainnya adalah Sa’id bin Muhammad al-Habib. Dia sangat aktif melakukan gerakan yang mendukung Dinasti Fatimiyah, terutama di daerah kelahirannya, Salmiyah.  Daerah inilah yang merupakanpusat awal dari gerakan Dinasti Fatimiyah, yang kemudian dilanjutkan oleh Abu Abd Allah al-Husayn al-Syi’i yang berhasil mempengaruhi masyarakat Arab dan melakukan propaganda di berbagai daerah seperti di Yaman dengan memperoleh bantuan dari para tokoh propaganda yang lain, yakni Ali bin Fadl al-Yamani dan Ibnu Hawshab al-Kufi. Gerakan propaganda di Yaman ini berhasil dengan baik, karena didukung oleh banyaknya pengikut  Syi’ah dan jauh dari pusat pemerintahan Abbasiyah, sehingga Yaman selain Salmiyah dapat di jadikan sebagai basis utama untuk melakukan gerakan selanjutnya.[6]

Pada abad X M, Abu Abd Allah al-Husayn al Shi’i seorang penduduk asli Shan’a Yaman yang mengklaim dirinya sebagai wakil al-Mahdi menyeberang ke Afrika Utara. Berkat propagandanya yang bersemangat, ia berhasil menarik simpati suku Berber, khususnya dari kalangan suku Kitamah. Setelah berhasil menegakkan pengaruhnya di Afrika Utara, Abu Abd Allah al-Husayn al Syi’i menulis surat kepada Imam Isma’iliyah Sa’id bin al-Husaynal-Salmiyah (kemungkinan keturunan kedua pendiri sekte Isma’iliyah,seorang Persia yang bernama ‘Abdullah ibn Maymun) di Syiria, agar segeraberangkat ke Afrika Utara untuk menggantikan dirinya sebagai pemimpin tertinggi Gerakan Shi’ah Isma’iliyah.
Sa’id mengabulkan undanganya dan memproklamirkan dirinya sebagai putra Muhammad al Habib, cucu dari Isma’il, selanjutnya gerakan ini berhasil menduduki Tunis, pusat pemerintahan Aghlabiyah pada tahun 297 H./909 M dan mengusirpenguasanya yang terakhir yaitu Ziyadatullah, Sa’id kemudian memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah/Imam dengan gelar Ubayd Allah al-Mahdi [7] .

Sejak itulah terbentuk Dinasti Fatimiyah (dinisbatkan pada Fatimah al-Zahra’ putri Rasululllah Saw) yang disebut juga Dinasti Bani Ubaidillah / al-‘Ubaidiyyun (menurut kalangan Sunni atau orang yang tidak percaya bahwa mereka keturunan Fatimah al-Zahra’) dengan ibu kota Qairawan (Tunisia).[8]

B.   PARA PENGUASA DINASTI FATIMIYAH 
  1. Al-MAHDI ( 909-934 M. / 297-322 H. )
Penguasa sekaligus pendiri Dinasti Fatimiyah ini mempunyai nama asli Sa’id bin al Husayn al-Salmiyah dengan gelar Ubayd Allah al-Mahdi yang menegakkan pemerintahannya di istana Aghlabiyah yaitu Raqqadah (terletak di pinggiran kota Qairawan) setelah dapat mengusir Ziyadatullah pada tahun 909 M/297 H, penguasa Aghlabi yang terakhir.[9]  Al-Mahdi adalah pemimpin yang sangat cakap dan berbakat, dua tahun setelah berkuasa ia membunuh pemimpin propagandanya, Abu Abd Allahal-Husayn al-Shi’i karena terbukti bersekongkol dengan saudaranya sendiri, Abu al-Abbas untuk melancarkam kudeta terhadap dirinya.Setelah itu ia melakukan ekspansi ke seluruh Afrika yang terbentangdari wilayah perbatasan Mesir sampai ke wilayah Maroko dan Fes  yang  dikuasai Idrisiyah dan pada tahun 914 M/302 H.
Ia berhasilmenaklukkan Iskandariyah dan kota-kota lain seperti Delta (914 M./304H.), Malta, Sardinia, Corsika dan Balearic. Sekitar tahun 920 M/308 H. Ia memindahkan pusat pemerintahannya di kota baru yang diberi nama dengan namanya sendiri yaitu al-Mahdiyyah di pesisir Tunisia, sekitar27,2 km. kearah tenggara kota Qairawan. [10]

  1. Al-Qaim ( 934-946 M. / 322-334 H. )
Al-Mahdi wafat pada tahun 934 M./322 H. dan digantikan oleh putra tertuanya Abu al-Qasim yang bergelar al-Qaim bi Amr Allah . Ia adalah pemimpin pemberani, hampir setiap ekspsdisi militer ia pimpin sendiri, sehingga dalam tahun pertama kekhalifannya, ia berhasil menduduki Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria dan padatahun yang sama ia mengerahkan pasukan ke Mesir namun dapatdikalahkan oleh dinasti Ikhsidiyah sehingga mereka terusir dari Iskandariyah. Ia meninggal dunia pada tahun 946 M. [11]
  1. Al-Mansur ( 946-952 M. / 334-341 H. )
Al-Mansur adalah pemuda yang lincah dan berani, ia menggantikan ayahnya dalam usia 27 tahun. Meskipun hanya memerintah selama 7 tahun 6 hari, ia masih bisa menjaga kedaulatan Dinasti Fatimiyah meskipun putra Abu Yazid Makad dan sejumlah pengikutnya senantiasa menimbulkan keributan. Ia juga membangun sebuah kota di wilayah perbatasan Susa’ pada tahun 337 H./949M yang diberi nama al-Mansuriyyah.[12]

  1. Al-Mu’izz ( 952-975 M. /341-365 H. )
Setelah al-Mansur meninggal dunia pada hari Jum’at akhir Shawal 341H/952 M. Ia digantikan putranya, Abu Tamim Ma’ad dengan gelar al-Mu’izz li Din Allah. Penobatan al-Mu’izz sebagai khalifah keempat menandai era baru Dinasti Fatimiyah, karena di samping pusat pemerintahan sudah berpindah dari al-Mahdiyah ke al-Qahirah yang dibangun oleh panglima perangnya, Jawhar al-Siqilli (al-S}aqali). [13] Setelah menguasai ibu kota Fustat sebagai lambing kemenangan dan dilanjutkan membangun  Masjid al Azhar setelah Mesir dapat ditaklukannya pada bulan Pebruari 969 M/Rabi’ al-Akhir 358 H, juga keberhasilan dalam ekspansi kekuasaan yaitu ke Maroko, Sycilia,Palestina dan Suriah Damaskus serta mampu mengambil penjagaan atas tempat tempat suci di Hijaz.[14]

  1. Al-‘Aziz ( 975-996 M. / 365-386 H. )
Abu Mansur Nizar (lahir pada tahun 344 H./954 M.) menggantikan ayahnya pada bulan Rabi’ al-Awwal 365 H. Memasuki tahun ke-22 dari umurnya dengan gelar al-‘Aziz bi Allah, ia terkenal sangat pemurah dan bijaksana bahkan terhadap musuh musuhnya sekalipun. Puncak kekuasaan Dinasti Fatimiyah adalah pada saat pemerintahannya yang meliputi dari wilayah Euprat sampai Atlantik, melampaui kekuasaan dinasti Abbasiyah di Baghdad yang sedang memasuki masa kemunduran dibawah kekuasaan Buwaihiyah [15]
Dalam pemerintahannya, ia sangat liberal dan memberikebebasan kepada setiap agama untuk berkembang, kerukunan antar umat beragama terjalin dengan sangat baik, bahkan seorang wazirnya, Isa ibn Nastur adalah beragama kristen dan Manasah seorang Yahudi menjadi salah seorang pejabat tinggi di istananya. Pembangunan fisik dan seni arsitektur merupakan lambang kemajuan pemerintahannya, karena ia juga ahli Sya’ir dan pendidikan seperti The Golden Palace, ThePearl Pavillion dan masjid Karafa, masjid al-Azhar dijadikan al- Jami’ah /Universitas.[16]

  1. Al-Hakim ( 996-1021 M. / 386-411 H. )
Al-‘Aziz digantikan oleh anaknya yang bernama Abu Ali Mansur (lahir pada bulan Rabi’ al-Awwal 875 H./985 M.) dengan gelar al-Hakim bi Amr  Allah yang masih berumur 11 tahun. Selama tahun-tahun pertama, ia berada dibawah pengaruh Gubernurnya yang bernama Barjawan yang sedang terlibat koinflik dengan panglima militer Ibn ‘Ammar, setelah berhasil menyingkirkan sang panglima, Barjawan menjadi pelaku utama dalam pemerintahannya meskipun pada tanggal 26 Rabi’ Al-Thani 390H/1000 M.
Bajarwan dibunuh karena tuduhan penyalahgunaan kekuasaan negara. Pemerintahannya ditandai dengan tindakan tindakan kejam yang menakutkan, ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja, orang kristen dan orang Yahudi harus memakai jubah hitam dan hanya dibolehkan menunggangi keledai, ia mengeluarkan maklumat untuk menghancurkan seluruh gereja di Mesir dan menyita  tanah serta seluruh harta kekayaan mereka sehingga mereka merasa kehilangan hak-haknya sebagai warga negara. [17]

Prestasi besar dalam pemerintahannya adalah pembangunan sejumlah masjid, perguruan-perguruan dan pusat observatorium astrologi, tahun 395 H/1005 M. Ia merampungkan pembangunan Dar al-Hikmah sebagai sarana penyebaran ajaran-ajaran Syi’ah dan pada tahun 403 H/1013 M. Ia mendirikan  al-Jam’iyyah al-‘Ilmiyyah “Akademia” dari berbagai disiplin ilmu seperti Fiqh, mantiq, Filsafat, matematika, kedokteran dan lainnya, setelah itu seluruh kitab yang ada di Dar al-Hikmah ia pindahkan ke masjid al-Azhar. Tetapi pada tanggal 13 Pebruari 1021 M/411 H. Ia terbunuh di Mukatam, kemungkinan konspirasi yang dipinpin oleh adik perempuannya yang bernama Sit al-Mulk  yang telah diperlakukan tidak hormat oleh khalifah. [18]

  1. Al-Zahir ( 1021-1035 M. / 411-427 H. )
Al-Hakim digantikan oleh putranya yang bernama Abu Hashim dengan gelar al-Zahir li I’zaz din Allah (lahir 10 Ramadan 395 H./1005M.), ia naik tahta pada usia 16 tahun sehingga pemerintahannya dipegang oleh bibinya Sitt al-Mulk, sepeninggal bibinya (tahun 415H./1025 M.), ia menjadi raja boneka dari menteri menterinya. Peristiwa besar pada masa ini adalah penyelesaian sengketa keagamaan di manapara tokoh mazhab Malikiyah diusir dari Mesir [19]

  1. Al-Mustansir ( 1035-1094 M. / 427-487 H. )
Al-Zahir diganti oleh anaknya yang bernama Abu Tamim Muhammad dengan gelar al-Mustansir bin Allah , ia menjabat sebagai khalifah selama enam puluh tahun empat bulan yang merupakan pemerintahan terpanjang dalam sejarah. Masa awal pemerintahannya dipegang oleh ibunya, karena ketika dinobatkan sebagai khalifah ia masih berumur tujuh tahun. Pada masa al-Mustansir, kekuasaan Dinasti Fatimiyah mengalami kemunduran secara drastis, relatif tidak ada perkembangan kecuali pembangunan teropong bintang, beberapa kali terjadi perebutan perdana menteri dan terjadi pemberontakan dan peperangan seperti Marokko menyatakan bebas dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah pada tahun  443 H. Mekkah dan Madinah memisahkan diri pada tahun 462 H. Di Yaman nama Khalifah telah tidak disebut-sebut lagi pada waktu khutbah [20]

  1. Al-Musta’li ( 1094-1101 M. / 487-495 H. )
Putra termuda dari al-Mustansir yaitu Abu al-Qasim Ahmad yang bergelar al-Musta’li bi Allah menduduki jabatan khalifah sepeninggal ayahnya,tetapi putra al Mustansir  yang tertua, Nizar menolak penobatan adiknya lalu ia bangkit di Iskandariyah setelah memecat Gubernur wilayah tersebut, disana ia memproklamirkan diri sebagai khalifah dengan gelar al-Mustafa li Din Allah  . Ketika al-Musta’li tahu kejadian tersebut, maka al-Malikal-Afdal sebagai orang yang mengangkat al-Musta’li membawabala tentara untuk menangkap Nizar dan memenjarakannya sampai meninggal.  Dengan kejadian ini, rakyat terpecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Musta’li dan Nizari. Kaum Nizari Isma’iliyah sebagian berada di Shiria dan sebagian di pegunungan Persia Barat dibawah pinpinan Hassan assabah, gerakan inilahyang kemudian dikenal dengan Asasin yang berasal dari kata Hasyasyin [21]

  1.  Al-Amir ( 1101-1130 M. / 495-524 H. )
Setelah al-Musta’li meninggal dunia, anaknya yang masih berumur lima tahun dinobatkan oleh al-Malik al-Afd  al sebagai khalifah dengaan gelar kehormatan  al-Amir li Ahkam Allah . al-Malik al-Afdal adalah perdana menteri yang berkuasa secara absolut selama 20 tahun, termasuk ketika al-Amir telah dewasadan merupakan raja Mesir yang sesungguhnya selama 50 tahun [22]
  1. Al-Hafiz ( 1130-1149 M. / 524-544 H. )
Setelah menjadi korban pembunuhan kelompok Nizariyyah / batiniyyah, sepupunya yeng bernama Abu al-Maymun Abd al Majid al-Hafiz memproklamirkan diri sebagai khalifah. Pemerintahanmya banyak diwarnai dengan perpecahan antara unsur-unsur kemiliteran. [23]

  1. Al-Zafir ( 1149-1154 M. / 544-549 H. )
Setelah kematian al-Hafiz, Putranya yang bernama Abu Mansur Isma’il dengan gelar al-Zafir. Ia masih berumur tujuh belas (17) tahun ketika dinobatkan menjadi khalifah. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan sembrono yang lebih memikirkan urusan perempuan dan musik dari pada urusan politik dan pertahanan, meskipun sebenarnya ia hanyalah seorang boneka dari seorang wazir dari Kurdistan, Abu al-Hasari bin al-Sallar yang menyebut dirinya al-Malik al-‘Adil yang kemudian terbunuh dan posisi wazir digantikan oleh Abbas. Pada tahun 1153 M/548 H. Al-Zafir dibunuh oleh Nasr ibn Abbas [24]

  1. Al-Faiz ( 1154-1160 M. / 549-555 H. )
Dua hari setelah kematian al-Zafir, putranya yang masih berumur empat tahun, Abu al Qasim Isa dinobatkan sebagai khalifah olehAbbas dengan gelar al-Faiz, khalifah kecil ini meninggal dunia pada usia sebelas tahun, lalu digantikan oleh sepupunya al ‘Adid [25]
  1. Al-‘Adid ( 1160-1171 M. / 555-567 H. )
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abd Allah al-‘Adid, ia masih berumur sembilan tahun ketika dinobatkan sebagai khalifah yang ke empat belas (khalifah terakhir dari Dinasti Fatimiyah), karena segera disusul penyerangan Almaric, Raja Yerusalem ke Mesir pada tahun 1167M/562 H dan terus menerus terjadi perebutan kekuasaan sampai datang Salah al-Din al-Ayyubi yang menggantikan pamannya, Syirkuh sebagai wazir pada tahun 1169 M/564 H. Salah al-Din adalah seorang yang sangat ramah, sehingga dengan cepat mendapatkan simpati rakyat dan bahkan sampai mengalahkan pengaruh khalifah. Langkah pertamanya adalah mengirim pasukan militer melawan tentara Salib da Karak dan Subik dan ia mendapatkan kemenangan sehingga rakyat Mesir Shi’ah, orang Turki dan Sunni menganggapnya sebagai pelindung mereka dalam menghadapi tentara Salib di Sham, perang tersebut terus berlanjut hingga dibuat perjanjian dengan Richard de Lion Heart  (raja Inggris), selanjutnya Salah al-Dinmengisi pos-pos keagamaan dengan ulama’fuqaha’  dari golongan sunni.[26]  

Pada tanggal 10 Muharram 567 H./1171 M. al-‘Adid meninggal dunia dan posisi khalifahan dipegang oleh Salah al-Din. Makasejak saat itu, Dinasti Fatimiyah  (paham sekte Shi’ah Isma’iliyyah) yang telah eksis selama dua setengah abad berakhir di Mesir dan selanjutnya diteruskan oleh dinasti Ayyubiyah dengan paham ahl al-Sunnah wa al- Jama’ah dijadikan dasar dalam kehidupan keagamaan di Mesir. [27]

C.      KEMAJUAN PERADABAN DINASTI FATIMIYAH
Sejak awal pemerintahannya, Al-Mahdi sudah berusaha menaklukkan Mesir, ia melakukan ekspansi tersebut sampai tiga kali yaitu pada tahun 913 M/301 H,919 M./307 H. dan tahun 933 M./321 H yang dipinpin oleh putranya Abu al-Qasim tetapi tidak pernah berhasil. Menurut Hasan Ibrahim [28] , ekspansi tersebut didorong beberapa faktor yang antara lain adalah:
  1. Faktor Ekonomi :
Keadaan alam Mesir yang agraris dan subur serta kaya dengan beberapa penghasilan dan kerajinan.
  1. Faktor Geografis:
Letak Mesir yang strategis, jauh dari pusat pemerintahan dawlah Abbasiyah di Baghdad, berada di tengah-tengah timur dan barat, dekat dengan Sham, Palestina dan Hijaz yang merupakan daerah-daerah yang subur dan potensial.
  1. Faktor Politis:
Dinasti Fatimiyah mendapat sambutan yang simpatik dari rakyat Mesir
  1. Bidang Keagamaan
Dalam urusan keagamaan, disusun lembaga dakwah dan dipimpin oleh kepala dakwah yang sangat tendensius untuk kepentingan politik Syi’ah [29] . Lembaga ini dalam struktur pemerintahan bertanggung jawab langsung kepada khalifah dengan tugas menyebarkan faham Syi’ah Isma’iliyyah[30] ke berbagai wilayah kekuasaan Dinasti Fatimiyah serta menyusun materi pelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan melalui kurikulum kurikulum yang ditetapkan oleh dinasti tersebut. Sedangkan diluar kekuasaan Dinasti Fatimiyah, dakwah ini dilakukan melaluihubungan dagang yang dibangun di daerah-daerah belahan timur,khusunya di Samudera Hindia dan daerah-daerah lain di wilayah Afrika dan Eropa. [31] Selain itu, disamping terdapat lima belas masjid, (di kota tuaFustat ada tujuh buah masjid dan di Kairo ada delapan buah masjid) sebagai tempat penyebaran paham Syi’ah Isma’iliyyah yangdi antaranya dicatat oleh Hasan Ibarahim Hasan yaitu: [32]

Ø Masjid  al-Azhar   ,
Didirikan oleh Jawhar al-Siqilli yang pembangunannya dimulai pada tanggal 14 Ramadan 359 H. /970M. Dan selesai pada tanggal 7 Ramadan 361 H. / 972 M.b.
Ø  Masjid al-Qarafah
Dibangun pada tahun 366  H. / 977 M.
Ø  Masjid al-Maqs
Dibangun pada masa pemerintahan al-Hakim.  
Ø Masjid Roshidah, pembangunannya dimulai pada tanggal 17  Rabi’al-Thani 393 H /1003 dan selesai bulan Ramadan 395 H. / 1005M.


Ø  Masjidal-Hakim
Pembangunannya dimulai pada pemerintahanal-‘Aziz tahun 380 H /990 M. Dan diselesaikan oleh al-Hakim pada tahun 402 H./ 1012 M. Tetapi roboh pada waktu terjadi gempa pada tahun 703 H. / 1309 M.
Ø  Masjid al-Aqmar 
Dibangun pada masa pemerintahan al-Amir tahun 519 H. / 1125 M.g.
Ø  Masjid al-Salih
Dibangun pada tahun 555 H./1160 M. Akan tetapimasjid ini roboh pada waktu terjadi gempa tahun 702 H. / 1308 M.Dinasti Fatimiyah juga membangun sejumlah makam Imam-Imam Shi’ah seperti Makam Husayn di Mesir dan memindahkan kepalanya dari Ascalon ke Kairo, sebagai salah satu bentuk pemuliaan kepada Imam mereka yang  ma’sum sekaligus sebagai figur penyelamat ( Messianisal-Mahdi ), hal ini disamping dimaksudkan sebagai dakwah juga sebagai legitimasi keagamaan bagi Imam-Imam Dinasti Fatimiyah yang berkuasa berikutnya sebagai salah satu keturunan para Imam (al- ma’sum  dan al-Mahdi ) tersebut. [33]

  1. Bidang Administrasi dan Pemerintahan
        Kekuasaan Pemerintahan Dinasti Fatimiyah mencakup wilayah yang sangat luas sekali meliputi Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz.[34]. Bentuk pemerintahan Dinasti Fatimiyah adalah bentuk yang dianggap pola baru dalam sejarah Mesir, karena dalam pelaksanaannya, khalifah adalah kepala negara yang bersifat temporal dan spritual, pemecatan pejabat tinggi berada dibawah control kekuasaan khalifah.
Menteri-menteri dibagi dalam beberapa kelompk ataukelas yaitu:

a.   MenteriKeamananNegara
Yaitumenteri yangmengurusi bidang Ketentaraan, perang, pengawal rumah tangga khalifah dan semua permasalahan yang menyangkut keamanan.
b.   MenteriDalamNegeri.MenteriUrusanRumahTanggayang bertugasmenyambut tamu-tamu kehormatan utusan luar negerid.
d.      Menteri Sekretaris Negara yang meliputi:
Ø  Qadi yang berfungsi sebagai hakim dan direkturpercetakan uang
Ø  Ketua Dakwah yang memimpin Dar al-Hikmah
  1. Bidang keilmuan
Inspektur Pasar ( muhtasib )yang membidangi bazar, jalan dan pengawasan timbangan dan takaran dalamperdagangan. Bendaharawan Negara yang membidangi bayt al-Mal .Wakil kepala urusan rumah tangga khalifah Qari’ yang membacakan al-Qur’an kepada khalifah. [35] Terdapat beberapa pejabat lokal yang diangkat olehkhalifah untuk mengelola negeri-negeri taklukan untukbertugas menarik pajak [36]

Dalam bidang Kemiliteran dibagi kedalam tiga kelompok,yaitu:
a.       Amir-amir yang terdiri dari para perwira tertinggidan para pengawal khalifah
b.      Para perwira istana yang terdiri atas para ahli( ustadh ) dan para kasimKomando-komando resimen yang masing-masing menyandangnama berbeda sepertii  hafiziyyah  , Juyushiyyah dan sudaniyyah atau yang dinamai dengan nama khalifah, wazir dan suku. [37]
Di luar jabatan-jabatan istana diatas, terdapat jabatan tingkatdaerah yang meliputi tiga daerah yaitu Mesir, Shiria dan daerah-daerah diAsia kecil. Khusus daerah Mesir terdiri dari empat provinsi, yaitu provinsiMesir bagian atas, provinsi Mesir wilayah timur, provinsi Mesir wilayahbarat dan wilayah Iksandariyyah, segala urusan yang berkaitan dengandaerah tersebut diserahkan kepada penguasa setempat. [38]

3. Bidang Ilmu Pengetahuan, Kebudayaan dan Filsafat

Dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan kebudayaan, Dinasti Fatimiyahdapat dikatakan mengungguli prestasi bani Abbas di Baghdad dan BaniUmayyah di Spanyol pada saat yang sama,. Prestasi ini bermula daritradisi yang dirintis oleh khalifah al-‘Aziz, istananya dijadikan pusatkegiatan keilmuan, diskusi para ulama, fuqaha’, qurra’, nuhat dan ahlihadith. al-‘Aziz memberi gaji yang besar kepada para pengajar sehinggabanyak ulama yang pindah dari Baghdad ke Mesir.Di Mesir, disamping terdapat Masjid al-Azhar ( Masjid Jami’  Dan dijadikan Jami’ah / Universitas) sebagai pusat kajian keilmuan baik aqliatau naqli, pada tahun 1005 M./395 H. (masa pemerintahan al-Hakim)didirikan perpustakaan Dar al-Hikmah yang memiliki empat ratus ruangdan terisi kurang lebih 200.000 buku dan 2.400 eksemplar al-Qur’an yangdihiasi ornamen-ornamen indah ( Illuminated  ) [39]

Sebagai pusat studi tingkattinggi yang didalamnya dilakukan kegiatan diskusi, penelitian, penulisandan penerjemahan bahasa asing dari bahasa Yunani, Persi, dan India kedalam Bahasa Arab serta pendidikan, meskipun pada tahun 1008 M./398H. lembaga ini ditutup dan para guru besarnya dihukum mati, [40]jauhsebelum itu sudah ada perpustakaan milik Ya’qub ibn Killis (perdanamenteri pada masa pemerintahan khalifah al-Mu’iz dan al-‘Aziz wafattahun 381 H. / 991 M.) yang bernama makatabah al-Qisr  , [41] dan ada jugasekolah  Dar al-‘Ilm meskipun pada tahun 1119 M./513 H. ditutup oleh al-Malik al-Afdal karena dianggap menyebarkan ajaran bid’ah.[42] Adapun disiplin ilmu dalamn buku-buku tersebut adalah ilmu kodrat, Tafsir, bahasa dan nahwu, adab, logika, sejarah, musik dan filsafat [43] .
Disamping itu didirikan juga sekolah Persi yang memiliki disiplin ilmu yangdiadopsi dari ajaran-ajaran Neo-Platonisme. Sekolah ini didirikan oleh al-Nasafi dan diaktifkan pertama kali di Nisapur lalu di Bukhara dan kemudiantersebar di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Fatimiyah.[44]. Para ilmuwan yang terkenal pada masa Dinasti Fatimiyah adalah Ya’qubibn Killis, seorang wazir yang sangat peduli terhadap pendidikan dankeilmuan. Pada masanya ia berhasil membesarkan ahli fisika Muhammadal-Tamimi dan seorang ahli sejarah yangbernama Muhammad ibn Yusuf al-Kindi dan ibn Salamah al-Quda’i.Seorang ahli sastra yang muncul pada masa ini adalah khalifah al-‘Azizyang berhasil membangun masjid al-Azhar. Seorang astronomis yangterkenal pada masa ini adalah Ali ibn Yunus, Ali al-Hasan dan ibn Haythamsebagai peletak dasar ilmu fisika dan optic.[45]
Dalam bidang kebudayaan yang bisa kita saksikan sampai saat iniadalah beberapa bangunan masjid yang memcirikan arsitektur khas Islamdengan menampilkan tiang tiang khas yang didesain dengan kaligrafibergaya kufi serta terdapat pintu-pintu gerbang besar yang masihbertahan sampai sekarang yaitu:  
bab zawillah,
bab al-Nasr  dan
bab al-Futuh
dan juga pintu-pintu gerbang yang sangat besar di Mesir yangdibangun oleh arsitek-arsitek Edessa dengan rancangan ala Bizantium. Termasuk produk budaya masa Dinasti Fatimiyah yang masih bisa kitalihat di museum Arab di Kairo adalah papan-papan yang diukir beberapamakhluk hidup seperti rusa yang diserang monster, kelinci yang diterkamelang dan beberapa pasang burung yang saling berhadapan, koleksiperunggu yang kebanyakan berupa cermin dan pedupaan serta patungperunggu grifin dengan tinggi 40 cm. yang sekarang berada Pisa. [46]
Priode Fatimiyah juga dikenal dalam keindahan budaya tekstilnya,beberapa contoh ditemukan di Barat yang dibawa kesana pada masaperang salib. Sedangkan produk tenun yang berkembang saat itu adalahbergaya Koptik-Mesir dan kemudian dipengaruhi gaya Iran dan Sasaniyah,yang diberi nama dengan nama sesuai tempat asal tenunan tersebut dikota Mesir seperti Dabiki, Dimyat}i, dan Tinnisi yang pada zamanChaucher dikenal dengan sebutan Fustian berasal dari kata Fustat, Mesir. [47]
Sedangkan dalam bidang filsafat, kelompok yang paling terkenalpada masa ini adalah ikhwan al-Safa , yang pemikirannya lebih cenderung membela kelompok Shi’ah Isma’iliyyah. Beberapa filusuf tersebutdiantaranya:
  1. Abu Hatim al-Razi, ia adalah sorang da’i isma’iliyyat yang pemikirannyalebih banyak dibidang politik, hasil karyanya al-Zayyinah setebal 1200halaman membahas tentang fiqih, filsafat dan aliran-aliran dalamagama.
  2. Abu Abdillah al-Nasafi, ia menulis kitab al-Mawsul membahas ushulfiqh Shi’ah Isma’iliyyah, dan kitab Unwan al-Din, usul al-Shar’i, al-Da’watu al-Munjiyyah, Kaun al-‘Alam dan al-Kaun al-Mujrof 
  3. Abu Ya’qub al-Sajasi, ia merupakan penulis yang paling bayaktulisannya, diantaranya adalah Asas al-Da’wah, al-Sharai’, Kashf al- Asrar, Ithbat al-Nubuwwah dan al-Nashrah
  4. Abu Hanifah al-Nu’man, ia menulis kitab Da’aim al-Islam al Yanabu,Mukhtasar al-Athar, Mukhtasar al-Idah}, Kayfiyah al-Salah, Manhaj al Faraid} dan al-Risalah al-Misriyyah,
  5.  Ja’far ibn Mansur al-Yamani, ia menulis  al-Shawahid wa al-Bayan dan al-fitrah wa al-Qirnat
  6. Hamid al-Din al-Kirmani, ia menulis kitab  Uyun al-Akhbar  dan al-Masabih fi Ithbat al-Imamah [48]
7.      Bidang Ekonomi dan Sosial
Mesir pada masa ini mengalami kemakmuran ekonomi dankesejahteraan sosial yang mengungguli Irak dan daerah-daerah lain dalamdunia Islam masa itu, diceritakan oleh seorang Persi yang menjadiPropagandis Isma’iliyah, Nasir-i-Khusraw ketika ia berkunjung ke Mesirpada tahun 1046-1049 H. Bahwa istana khalifah mempekerjakan 30.000orang, 12.000 orang diantaranya adala pelayan dan 1.000 orang penguruskuda. Hubungan dagang dengan dunia non-muslim terbina dengan baik,termasuk dengan India dan negeri Mediterania yang beragama kristenserta melakukan hubungan kerja sama dengan republik Italia, al- Maji, Pisadan Vinice.Hal tersebut dilakukan disamping karena dari Mesir banyakdihasilkan produk industri tenun, kain sutra, wol dan industry kristal, keramik, seni kerajinan tangan, seni ukir, tambang besi, baja dantembaga [49] , juga didorong karena pada waktu itu Dinasti Fatimiyah sudahmempunyai fasilitas pelabuhan di Iksandariyah, Damika, Ascaton dan Tripoli, jajahan Shiria. Volume perdagangan lewat laut terbesar dilakukandengan Barat dan Spanyol, sedangkan di Timur dengan India yang telahberhasil mengubah lintasan perdagangan yang sebelumnya melalui telukPersia ke laut Merah menjadi Hindia ke laut Tengah, Pelabuhan besar yangdimiliki Dinasti Fatimiyah disana adalah pelabuhan ‘Aida’  di teluk Sudan. [50]
Diceritakan oleh Nasir-i-Khusraw pada masa ketika ia berkunjung keMesir, terdapat tujuh buah perahu berukuran 150 kubik dengan 60 tiangpancang berlabuh ditepi sungai Nil, terdapat 20.000 toko milik khalifahyang hamper semuanya dibangun dengan batu bata dengan ketinggianhingga lima atau enam lantai dan dipenuhi dengan berbagai prudukkomoditi internasional, jalan-jalan utama diberi atap dan diterangi lampuserta keamanan dan ketertiban pada masa itu sangat diperhatikan. Konon, jika ada seorang pedagang yang curang, ia akan dipertontonkan diatassepanjang jalan kota sambil membunyikan lonceng dan mengakuikesalahannya, toko-toko perhiasan atau tempat penukaran uang ( money changer  ) tidak pernah dikunci saat ditinggal pemiliknya. [51]
Ini semuamenandakan betapa makmur, aman dan damainya penduduk Mesir ketikaitu.Dalam hubungannya dengan masalah keuangan, ditulis oleh HasanIbrahim Hasan [52] , bahwa pada masa itu sudah diatur dengan sangat rapi,seperti pajak ( kharaj )termasuk juga pajak wajib bagi ahl al-zimmah khusus orang laki-laki dansudah baligh yang disebut al-Jawali , kemudian sudah ada peraturan cukai( al-Maks ) untuk produk-produk impor serta peraturan-peraturan lainnyaterhadap beberapa hasil bumi yang diterapkan dan dipatuhi dengan baiksesuai dengan peraturan fiqh.

8.      Bidang Politik 
Keadaan politik pada masa awal pemerintahan Dinasti Fatimiyahsampai priode pemerintahan yang ketujuh, masa pemerintahan al-Zahir  ,relatif stabil dan tidak ada kejadian besar, karena para khalifah tersebutmasih berkuasa penuh terhadap pemerintahan, meskipun keputusan politikyang diambil oleh mereka sering kali merugikan pihak lain yang non Shi’ahbahkan non muslim, seperti keputusan politik yang diambil oleh al-Hakim  terhadap orang-orang Yahudi dan Kristen dengan memaksa merekamemakai jubah hitam dan hanya dibolehkan menunggangi keledai, lalu al-Hakim mengeluarkan maklumat untuk menghancurkan seluruh gereja diMesir dan menyita tanah serta seluruh harta kekayaan mereka sehinggamereka merasa kehilangan hak-haknya sebagai warga Negara [53] ,sedangkan kepada orang-orang muslim yang menjadi pegawai  kerajaandiwajibkan mengikuti paham Shi’ah, Keadaan ini sangat bertolak belakangdengan kehidupan politik pada masa pemerintahan al-‘Aziz yang begitumoderat, kondusif terhadap perkembangan semua paham dan agama yang ada di Mesir, meskipun al-‘Aziz sendiri pernah melarang pelaksanaansalat tarawih disemua masjid di Mesir [54] , hal itu disebabkan agar tidakterjadi gejolak sosial antara pengikut beberapa mazhab dengan pendapatyang berbeda-beda tentang pelaksanaan salat tersebut.Setelah memasuki priode pemerintahan yang kedelapan, masapemerintahan al-Mustansir, barulah terjadi gejolak politik dalampemerintahan dinasti ini, kekacauan politik terjadi dimana-mana,pertikaian antara orang Turki, suku Berber, bani Hamdan dan pasukanSudan, lalu dilanjutkan dengan munculnya perseteruan para pejabat tinggiistana dalam memperebutkan posisi wazir yang didukung oleh kelompoktentara masing-masing. Hal ini disebabkan karena khalifah yang diangkatmasih dibawah umur sehingga tidak bisa berkuasa penuh terhadappemerintahan dan hanya dijadikan sebagai boneka oleh para wazirtersebu

BAB III KESIMPULAN

Dinasti Fatimiyah adalah dinasti yang dibangun atas dasarprotes politik terhadap kekuasaan pada saat itu denganlegitimasi agama yaitu tuntutan Imamah sebagai penggantiRasulallah SAW. Karena sebuah hadith al-aimmah min quraysh dengan keyakinan bahwa Ali ibn Abi Talib (suami Fatimah al-Zahro putri Rasulallah) dan keturunannya sebagai pewariskekhalifahan / Nabi
Dinasti Fatimiyah adalah satu-satunya dinasti Shi’ah dalamIslam yang eksis selama kurang lebih dua setengah abad danbisa bejaya melampaui capaian wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam terdahulu, dan telah memberi banyaksumbangan peradaban terhadap dunia Islam, khususnya Mesir,karena pada masa Dinasti Fatimiyah ini, Mesir mengalamitingkat kemakmuran dan vitalitas kultural yang mengungguliIrak dan Baghdad sebagai pusat kekuasaan Islam kala itu.
Dalam segala aspek kehidupan secara umum, Dinasti Fatimiyahmemberikan kelonggaran kepada semua orang untukmelakukan kegiatan sosial, keagamaan dan bahkan politik,meskipun disisi lain dinasti ini mempunyai misi menanamkanpaham keagamaan, yaitu Shi’ah sekte Isma’iliyah
Sumbangan terbesar Dinasti Fatimiyah yang cukup signifikanadalah menyatukan Dunia Barat dan Timur, karena letak Mesir(Iskandariyah) yang sangat strategis untuk tercapainya haltersebut.

KEPUSTAKAAN
  1. Amin, Ahmad, Dunia al-Islam , jld.2, Kairo: Lajnah al-Ta’rif wa al-Nashr, tt.Ali, K.
  2. Sejarah Islam,Tarikh Pramodern , terj. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003.
  3. Abdullah, Taufik, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam . Yogyakarta: LIPI, 2002.G.E. Von Grunebaum, Classical Islam A History 600-1258. Chicago: Aldine Publishingcompany, 1970.
  4. Hasan, Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islami al-Siyasi wa al-Din wa al-Thaqaf wa al-Ijtima’  , jld.3 . Kairo: Maktab al-Nahd}ah al-Misriyah,1996. __________,
  5. Tarikh al-Dawlah al-Fatimiyyah. Kairo: al-Nashr, 1958. Halm, Heinz, Shiism , Edinburg: University Press,1991.
  6. Nur Hakim, Moh. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang, UMM Press, 2004.
  7. http://id.wikipedia.org/ wiki / Bani Fatimiyah.K. Hitti, Philip,
  8. Hisrtory of The Arabs , terj. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.2006.
  9. Lapidus, Ira, Sejarah Sosial Umat Islam, jld. 1-2. Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada,1999.
  10. Mortimer, Edward, Islam dan Kejayaan. Bandung: Mizan,1984.
  11. Montgomery Watt, W. Kejayaan Islam:Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis . Yogyakarta: PT. Tiara WacanaYogya,1990.
  12. Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1997)
  13. Sounders, J A History of Medival Islam. London: Redwood Book,1981.
  14. Salabi, Ahmad, Mawsu’ah al-Ta>rikh al-isla>m wa al-Had}a>roh al-Isla>miyyah jld 5.Kairo: Maktbah al-Nahdah al-Misriyah,1979.
  15. Stepan and Nandy Ronart, Concise Encyclopedia of Arabic Ciuvilication , Amsterdam:Djambatan,1966.
  16.  Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, 2. Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoove,1994. 
  17. Thohir, Ajid,Perkembangan Peradaban di Dunia Islam.Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada,2004.



[1] JJ. Sounders, A History of Medival Islam (London: Redwood Book, 1981),.125. lihat juga, Philip K. Hitti, Hirtory of The Arabs , terj. (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta,2006), 787.

[2] http://id.wikipedia.org/ wiki/ Bani Fatimiyah.
[3] Ahmad Salabi,  Mawsu>’ah  al-Ta>rikh al-isla>m wa al-Hada>roh al-Isla>miya jld5(Kairo: Makbah al-Nahdah al-Mis}riyah, 1979), 231

[4] JJ. Sounders,
 A History,
129.
[5] Edward Mortimer,
Islam dan Kejayaan( 
Bandung,Mizan,1984), 39. Lihat Juga, W.Montgomery Watt,
Kejayaan Islam:Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis
(Yogyakarta:PT. Tiara WacanaYogya, 1990),178.
[6] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Isla>mi al-Siya>si wa al-Din wa al-Thaqaf waal-Ijtima’ 
(Kairo: Maktaba al-Nahd}ah al-Misriyah,1996, jld.3, h.144. lihat juga, HasanIbrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah al-Fa>t}imiyah
(Kairo: al-Nasr, 1958), 72.
[7] G.E.Von Grunebaum,
Classical Islam A History600-1258 (Chicago: AldinePublishing company, 1970),114.
[8] Ali Mufrodi,
Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos WacanaIlmu,1997), 116-117. lihat juga, Philip K. Hitti, Hirtory  ,788. lihat juga, Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam,2 (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoove,1997), 4. Lihat Juga, IraLapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, jld 1-2 (Jakarta: PTRaja GrafindoPersada,1999),533
[9] Philip K. Hitti,  Hirtory   ,788. lihat juga, Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Dawlah ,49.lihat juga, Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Dunia Islam (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2004),113.
[10] Ibid,789
[11] Ibid,
Ta>rikh al-Isla>mi al-Siya>si,
136, lihat juga, K. Ali,
Sejarah Islam:TarikhPramodern
, terj., (Jakarta:: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 492-493.
[12] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 92. lihat juga, Ajid Thohir,
Perkembangan
, 113
[13] Ali Mufrodi,
Islam di Kawasan
, 117

[14] Philip K.Hitti,
Hirtory 
,790. lihat,Hasan Ibrahim ,
Ta>rikh al-Dawlah
,92,dan140.lihat juga, Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Isla>mi
,136. lihat juga, Ajid Thohir,
Perkembangan
,114
[15] Hasan Ibrahim Hasan,
Tarikh al-Dawlah
, 97. dan 156 lihat juga, Ajid Thohir,
Perkembangan
, 114.
[16] Philip K. Hitti,
Hirtory 
, 790. K. Ali,
Sejarah
, 499. lihat juga, Ajid Thohir,
Perkembangan
,114
[17] Hasan Ibrahim Hasan,
Tarikh al-Dawlah
, 164-165.
[18] Ibid, 428. lihat juga,

Philip K. Hitti,
Hirtory 
, 792-793.
[19] K. Ali,
Sejarah Islam,
502.
[20] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 169
[21] G.E.Von Grunebaum,
Classical Islam,
148. lihat juga, K. Ali,
Sejarah
, 507.
[22] Ibid, K. Ali,
Sejarah
, 508.
[23] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 176-197

[24] Philip K. Hitti,
Hirtory 
, 796. lihad juga, Ajid Thohir,
Perkembangan
, 121.
[25] Ibid
[26] Ahmad Amin,
Duha al-Islam
, jld.2, (Kairo: Lajnah al-Ta’rif wa al-Nashr, tt), 34
[27] Ajid Thohir,
Perkembangan
,122.
[28] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 112-113.
[29] Heinz Halm,
Shiis
(Edinburg University Press, 1991),175
[30] Tahapan dakwah yang dilakukan bisa dilihat, Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 326-342.
[31] Taufik Abdullah,
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam
(Yogyakarta: LIPI, 2002), 307

[32] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 534-540. lihat juga, Philip K.Hitti,
Hirtory 
, 804
[33] Moh.Nur Hakim,
Sejarah dan Peradaban Islam
, (Malang,UMM Press,2004),106
[34]  http://id.wikipedia.org/ wiki / Bani Fatimiyah
[35] Philip K.Hitti,
Hirtory 
, 800. lihat juga. Ajid Thohir,
Perkembangan
, 115
[36] Daftar pejabat bisa dilihat, Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 282-290
[37] Philip K.Hitti,
Hirtory 
, 800.K.Ali,
Sejarah
, 509-510. lihat juga, Ajid Thohir,
Perkembangan
, 115
[38] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 289.
[39] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 539
[40] Stepan and Nandy Ronart,
Concise Encyclopedia of Arabic Ciuvilication
,(Amsterdam: Djambatan, 1966), 172
[41] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 539
[42] Philip K.Hitti,
Hirtory 
,801
[43] Ibid. lihat juga, Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 435.
[44] Grunebaum,
Classical
, 126
[45] Philip K.Hitti,
Hirtory 
,802. lihat juga, Ajid Thohir,
Perkembangan
, 117-118
[46] Philip K.Hitti,
Hirtory 
, 805
[48] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 465-501
[49] Lebih jelas lihat, Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 582-592
[50] Grunebaum,
Classical
, 146
[51] Philip K.Hitti,
Hirtory 
, 798
[52] Hasan Ibrahim Hasan,
Ta>rikh al-Dawlah
, 206
[53] Ibid,208

[54] Ibid,218

0 Comment